Headlines News :
    Showing posts with label Wisata. Show all posts
    Showing posts with label Wisata. Show all posts

    Filosopi Topeng Cirebon sebagai salah satu budaya Nasional


    Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam. Bagi mereka yang kurang peka dalam pengalaman seni, tarian ini akan membosankan. Tarian kok tidak banyak gerak? Bukankah hakikat tari itu memang gerak (tubuh)? Inilah teka-teki Tarian Panji dalam Topeng Cirebon. Bagaimana penduduk desa mampu menciptakan tarian semacam itu? Penduduk desa yang tersebar di sekitar Cirebon hanyalah pewaris dan bukan penciptanya. Penduduk desa ini adalah juga penerus dari para penari Keraton Cirebon yang dahulu memeliharanya. Ketika Raja-raja Cirebon diberi status "pegawai" oleh Gubernur Jenderal Daendels, dan tidak diperkenankan memerintah secara otonom lagi, maka sumber dana untuk memelihara semua kesenian Keraton tidak dimungkinkan lagi. Para abdi dalem Keraton terpaksa dibatasi sampai yang amat diperlukan sesuai dengan "gaji" yang diterima Raja dari Pemerintah Hindia Belanda.

    Begitulah penari-penari dan penabuh gamelan Keraton harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan. Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai "gaya" Topeng Cirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan lain-lain.

    Untuk merekonstruksi kembali Topeng Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya Topeng Cirebon tadi harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola dan strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita peroleh bentuk yang mendekati "aslinya". Namun metode initak dapat dilakukan tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.

    Dari mana filsafat tari Topeng Cirebon itu dapat dipastikan? Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian yang sekarang ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis terhadapnya.

    Siapakah Empu pencipta tarian ini? Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat Indonesia lama tidak akrab dengan budaya tulis. Meskipun budaya tulis dikenal di Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastranya saja.

    Di Zaman Mana?

    Kalau pencipta tidak dikenal, sekurang-kurangnya di zaman mana Topeng Cirebon ini telah ada? Kepastian tentang ini tidak ada. Namun ada dugaan bahwa di zaman Raja Majapahit, Hayam Wuruk, tarian ini sudah dikenal. Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja ini menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja, ibu mertua raja, ibunda raja).

    Dengan demikian dapat diduga bahwa Topeng Cirebon ini sudah populer di zaman Majapahit antara tahun 1300 sampai 1400 tarikh Masehi. Mencari dasar filosofi tarian ini harus dikembalikan pada sistem kepercayaan Hindu-Budha-Jawa zaman Majapahit. Tetapi mengapa sampai di Keraton Cirebon? Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit (1525), tarian ini rupanya dihidupkan oleh Sultan-sultan Demak yang mungkin mengagumi tarian ini atau memang dibutuhkan dalam kerangka konsep kekuasaan yang tetap spiritual. Dalam babad dikisahkan bahwa Raden Patah menari Klana di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Ini justru membuktikan bahwa Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton.

    Dari Demak tarian ini terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke arah barat sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari penggunaan bahasa Jawa lamanya. Sedangkan Demak sendiri dilanjutkan oleh Pajang yang berada di pedalaman, kemudian digantikan oleh Mataram yang juga di pedalaman.

    Topeng Majapahit ini, dengan demikian, hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat, sedangkan di Jawa pedalaman topeng tidak hidup kecuali bentuk dramatik lakon Panjinya. Kalau topeng tetap hidup dalam fungsi ritualnya, tentunya juga berkembang di kerajaan-kerajaan Islam Jawa pedalaman. Rupanya topeng dipelihara di Jawa Barat karena pesona seninya. Topeng sangat puitik dan kurang mengacu pada mitologi Panji yang hinduistik. Topeng lebih dilihat sebagai simbol yang mengacu pada realitas transenden. Inilah sebabnya sultan-sultan di Jawa Barat yang kuat Islamnya masih memelihara kesenian ini.

    Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.



    Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan. Dalam diriNya adalah ketunggalan mutlak. Sedangkan semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka, keberagaman. Dan keanekan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Pemahaman ini umum di seluruh Indonesia purba, bahkan di Asia Tenggara dan Pasifik. Dan filsuf-filsuf Yunani pra-Sokrates, filsuf-filsuf alam, juga mengenal pemahaman ini. Boleh dikatakan, pandangan bahwa segala sesuatu ini terdiri dari pasangan kembar yang saling bertentangan tetapi merupakan pasangan, adalah universal manusia purba.


    Mengandung Semua Sifat Ciptaan

    Sang Hyang Tunggal Indonesia purba ini mengandung semua sifat ciptaan. Karena semua sifat yang dikenal manusia itu saling bertentangan, maka dalam diri Sang Hyang Tunggal semua pasangan oposisi kembar tadi hadir dalam keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga Sifat itu tidak dikenal manusia alias Kosong mutlak. Paradoksnya justru Kosong itu Kepenuhan sejati karena Dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu Penuh, Penuh itu Kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tiak ada perbedaan, tunggal mutlak. Di Cina purba, Sang Hyang Tunggal ini disebut Tao.

    Topeng Cirebon menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal ini memecahkan diriNya dalam pasangan-pasangan kembar saling bertentangan itu, seperti terang dan gelap, lelaki dan perempuan, daratan dan laut. Dalam tarian ini digambarkan lewat tari Panji, yakni tarian yang pertama. Tarian Panji ini merupakan masterpiece rangkaian lima tarian topeng Cirebon. Tarian Panji justru merupakan klimaks pertunjukan. Itulah peristiwa transformasi Sang Hyang Tunggal menjadi semesta. Dari yang tunggal belah menjadi yang aneka dalam pasangan-pasangan.

    Inilah sebabnya kedok Panji tak dapat kita kenali secara pasti apakah itu perwujudan lelaki atau perempuan. Apakah gerak-geriknya lelaki atau perempuan. Kedoknya sama sekali putih bersih tanpa hiasan, itulah Kosong. Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan gamelannya gemuruh. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari ketidakberbedaan menjadi perbedaan-perbedaan. Itulah puncak topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu.

    Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni "Pamindo-Rumyang", dan "Patih-Klana". Inilah sebabnya kedok "Pamindo-Rumyang" berwarna cerah, sedangkan "Patih-Klana" berwarna gelap (merah tua).

    Gerak tari "Pamindo-Rumyang" halus keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak "dalam" (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak "luar". Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah Panji mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini orang-orang tari tentu lebih fasih menjelaskannya.

    Topeng Panji menyimbolkan peristiwa besar universal, yakni terciptanya alam semesta beserta manusia ini pada awal mulanya. Topeng Panjing atau topeng Cirebon ini mengulangi peristiwa primordial umat manusia, bagaimana "penciptaan" terjadi. Tidak mengherankan kalau di zaman dahulu hanya ditarikan oleh para raja. Raja mewakili kehadiran Sang Hyang Tunggal itu sendiri, karena dalam paham kekuasaan Jawa, Raja adalah Dewa itu sendiri, yang dikenal dengan paham dewa-Raja.

    Topeng Cirebon adalah gambaran sangat puitik tentang hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya. Tari Panji adalah tarian Sang Hyang Tunggal itu sendiri, dan tarian-tarian lainnya yang empat adalah perwujudan dari emanasi diriNya menjadi pasangan-pasangan sifat yang saling bertentangan.

    Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sakral. Tarian ini sama sekali bukan tontonan hiburan. Itulah sebabnya dalam kitab-kitab lama disebutkan, bahwa raja menarikan Panji dalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.

    Tarian juga harus didahului oleh persediaan sajian. Dan sajian itu bukan persembahan makanan untuk Sang Hyang Tunggal. Sajian adalah lambang-lambang dualisme dan pengesaan. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.

    Filosofi Hidup Suku Dayak Bumi Segandu Indramayu

    Bila suatu ketika kita berkunjung ke daerah Indramayu, tidak jauh dari Pantai Eretan Wetan, di sepanjang lajur sebelah kanan by pass dari arah Jakarta ke Cirebon (jalur Pantura), terdapat sebuah jalan kecil yang bila ditelusuri menuju ke lokasi pemukiman sebuah komunitas yang menamakan dirinya Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu. Orang luar sering juga menyebutnya dengan istilah “Dayak Losarang”, atau "Dayak Indaramayu”. Komunitas ini tepatnya bermukim di Kampung Segandu. Desa Krimun, Kecamatan Losarang. Kabupaten Indramayu.

    “Suku Dayak Indramayu” mulai mencuat ke permukaan sejak pernyataan mareka untuk menjadi “Golongan Putih” (golput= tidak memilih salah satu partai) pada Pemilu tahun 2004.

    “Suku Dayak Indramayu” hidup di tengah-tengah masyarakat sekitarnya, akan tetapi dalam beberapa hal, mereka mengisolasikan diri dari lingkungan masyarakatnya. Misalnya untuk tempat tinggal dan tempat peribadatan (ritual) mereka, dibentengi dengan dinding yang cukup tinggi dan diberi ornament lukisan-lukisan. Di dalam benteng ini terdapat beberpa bangunan yang terdiri atas: rumah pemimpin suku, pendopo, pesarean, pesanggaran, dan sebuah bangunan rumah tinggal salah satu pemimpin suku.

    Benteng yang mengelilingi padepokan



    Beberapa bangunan, yaitu rumah pemimpin suku dan pesarean sudah merupakan bangunanpermanent, berdinding tembok, berlantai keramik, dan beratap genteng. Gedung pendopo berdinding semi permanent, yaitu dinding bagian bawah berupa tembok dan duduk jendela/setengah badan ke atas menggunakan papan yang dilapis bilik, berlantai keramik, dan beratap genteng. Sementara itu, bangunan pesanggaran adalah bangunan non-permanen, berlantai tanah, beratap sirap dan dindingnya dibuat dari papan dan bilik.

    Lingkungan alam di sekitarnya adalah lingkungan pertanian sawah dan palawija. Oleh sebab itu, mereka dalam kesehariannya bermata pencaharian sebagai buruh tani. Data tentang deskripsi kehidupan mereka diperoleh melalui wawancara dengan ketua Suku Dayak Hindu Budha.

    Asal Usul Nama Suku Dayak Bumi Segandu
    Komunitas ini menamakan dirinya dengan sebutan “Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu”. Menurut penjelasan warga komunitas ini, penamaan Suku Dayak ini mengandung makna sebagai berikut: Kata “Suku” artinya kaki, yang mengandung makna bahwa setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki masing-masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing.

    Kata “Dayak” berasal dari kata “ayak” datau “ngayak” yang artinya memilih atau nyaring. Makna kata “Dayak” disini adalah menyaring, memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.

    Kata “Hindu” artinya kandungan atau rahim. Filosofinya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dari kandungan sang Ibu (perempuan).

    Sedangkan kata “Budha”, asal dari kata “wuda”, yang artinya telanjang. Makna filosofinya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang.

    Selanjutnya adalah kata “Bumi Segandu Indramayu”. “Bumi mengandung makna wujud, sedangkan “Segandu” bermakna sekujur badan. Gabungan kedua kata ini, yakni “Bumi Segandu” mengandung makna filosofi sebagai kekuatan hidup.

    Adapun “Indramayu”, mengandung pengertian “In” maknanya adalah “inti”, “Darma” artinya orang tua, dan kata “ayu” maknanya perempuan.

    Makna filosofinya adalah bahwa ibu (perempuan) merupakan sumber hidup, karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan.

    Jadi penyebutan kata “suku” pada komunitas ini bukan dalam konteks terminologysuku bangsa (etnik) dalam pengertian antropologis, melainkan penyebutan istilah yang diambil dari makna kata-kata dalam bahasa daerah (jawa).

    Demikian juga dengan kata “Dayak”, bukan dalam pengertian sukubangsa (etnik) Dayak yang berada di daerah Kalimantan, kendati pun dari sisi performan ada kesamaan, yakni mereka (kaum laki-laki) sama-sama tidak mengenakan baju. Serta mengenakan asesoris berupa kalung dan gelang (tangan dan kaki).

    Lebih jauh, pemimpin komunitas ini menjelaskan tentang pemakaian kata “Hindu-Budha” pada sebutan komunitas ini. Kendatipun kominitas ini menggunakan kata “Hindu-Budha”, bukan berarti bahwa mereka adalah penganut agama Hindu ataupun Budha. Penggunaan kata “Hindu”, karena komunitas ini meneladani peri kehidupan kelima tokoh Pandawa, yang terdiri atas: Yudistira, Bima(Wirekudara), Arjuna(Permadi), Nakula dan Sadewa, serta tokoh Semar, yang dipandang sebagai seorang mahaguru yang sangat bijaksana. Adapun penyebutan kata “Budha” karena mereka mengambil inti ajaran “aji rasa” (tepuk seliro) dan kesahajaan yang merupakan inti ajaran agama Budha.

    Konsep-konsep Ajaran Sejarah Alam Ngaji Rasa
    Ajaran dari kelompok “Dayak Indramayu” dinamakan dengan sebutan “Sejarah Alam Ngaji Rasa”. Menururt penjelasan salah seorang pengikut senior dari Pak Takmad, “Sejarah” adalah perjalanan hidup (awal, tengah, dan akhir) berdasarkan ucapan dan kenyataan. Sementara itu, “alam” adalah ruang lingkup kehidupan atau sebagai wadah kehidupan.

    Adapun “Ngaji rasa” adalah tatacara atau pola hidup manusia yang didasari dengan adanya rasa yang sepuas mungkin harus dikaji melalui kajian antara salah dan benar, dan dikaji berdasarkan ucapan dan kenyataan yang sepuas mungkin harus bisa menyatu dan agar bisa menghasilkan sari atau nilai-nilai rasa manusiawi, tanpa memandang ciri hidup, karena pandangan salah belum tentu salahnya, pandangan benar belum tentu benarnya. “Oleh karena itu, kami sedang belajar ngaji rasa dangan prinsip-prinsip jangan dulu mempelajari orang lain, tapi pelajarilah diri sendiri antara salah dengan benarnya, dengan proses ujian mengabdikan diri kepada anak dan istri”, ungkapnya.

    Konsep-konsep ajaran ini tidak didasarkan pada kitab suci, aliran kepercayaan, agam maupun akar budaya tertentu. Mereka berusaha mencari pemurnian dari dengan mengambil teladan sikap dan perilaku tikoh pewayangan Semar dan Pandawa Lima yang dianggapnya sangat bertanggungjawab terhadap kelaurga.

    Proses menuju pemurnian diri, menurut Takmad, melalui beberapa tahap yang harus dijalin dengan menjauhkan diri dari keramaian dunia yang mengejar kesengan duniawi.
    Tahap-tapah tersebut adalah: wedi-sabar-ngadirasa (ngajirasa)-memahami benar-salah.

    Pada awalnya, setiap manusia wedi-wedian (takut, penakut) baik terhdap alam maupun lingkungan masyarakatnya. Oleh karena itu, manusia harus mengembangkan perasaan sabar dan sumerah diri dalam arti berusaha selaras dengan alam tanpa merusak alam. Prinsipnya adalah jangan merusak alam apabila tidak ingin terkena murka alam. Itulah yang disebut ngaji rasa atau ngadirasa. Setelah bersatu dan selaras dengan alam, dalam arti mengenal sifat-sifat alam sehingga bisa hidup dengan tenteram dan tenang karena mendapat lindungan dari Nur Alam (pencipta alam), manusia akan memahami benar-salam dan selanjutnya dengan mudah akan mecapai permurnian diri; manusia tidak lagi memiliki kehendak duniawi. Cerminan dari manusia yang telah memahami benar-salah, tampak dalam kehidupan sehari-harinya. Manusia yang telah mencapai tahap tersebut, akan selalu jujur dan bertanggungjawab.

    Ngajisara, ajaran yang diakui sebagai jalan menuju pemurnian diri, mendidik setiap pengikutnya untuk mengendalikan diri dari “TIGA TA (harta, tahta dan wanita).

    Bagi para pengikut yang telah menikah, suami harus sepenuhnya mengabdikan diri pada keluarga. Suami tidak boleh menghardik, memarahi, atau berlaku kasar terhadap anak dan istrinya. Oleh karena itu, perceraian merupakan sesuatu yang dianggap pantang terjadi. Demikian juga, hubungan di,luar pernikahan sangat ditentang. “Jangan coba-coba berzinah apabila tidak ingin terkena kutuk sang guru,” demikian salah seorang pengikut Pak Talmad mengungkapkan.

    Ngaji rasa juga mengajarkan untuk saling mengasihi kepada sesama umat manusia. Misalnya, menolong orang yang sedang kesulitan walaupun berbeda kepercayaan, tidak menagih utang kepada orang yang diberi pinjaman. Yang terbaik adalah membiarkan orang yang berutang tersebut untuk membayar atas kesadarannya sendiri. Demikian juga dalam hal mendidik anak, sebaiknya tidak terlalu banyak ngatur karena yang bisa mengubah sikap dan perilaku adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Jalan menuju pemurnian diri juga ditunjukan dengan hidup yang sederhana, menjauhi keinginan mengejar kesenangan duniawi, menghilangkan perasaan dendam, penasaran dan iri kepaada orang laina.

    Konsepsi tentang alam tampak dari keyakjian bahwa dunia berasal dari bumi segandu (bumi yang masih bulat) bernama Indramayu. Bumi segandu, kemudian menimbulkan lahar menjadi daratan, kekayon, dan air. Setelah itu muncul alam gaib, yangmengendlaikan semua itu adalah Nur Alam.

    Ritual
    Ritual yang dijalankan oleh anggota Suku Dayak Hindu-Budha Segandu Indramayu, dilakukan pada setiap malam Jum’at kliwon, bertempat di pendopo Nyi Ratu kembang. Beberapa puluh orang laki-laki bertelanjang dada dan bercelana putih hitam, duduk mengelilingi sebuah kolam kecil di dalam pendopo. Sementara itu,kaum perempuan duduk berselonjor diluar pendopo.

    Ritual diawali dengan melantunkan Kidung Alas Turi dan Pujian Alam secara bersama-sama. Salah satu baik dari Pujian Alam, berbunyi sebagai berikut: ana kita ana sira, wijile kita cukule sira, jumlae hana pira, hana lima, ana ne ning awake sira. Rohbana ya rohbana 2x, robahna batin kita. Ning dunya sabarana, benerana, jujurana, nerimana, uripana, warasana, sukulana, penanan, bagusana [ada (pada) saya ada (pada) kamu, lahirnya aku tumbuhnya kamu, jumlahnya ada berapa, jumlahnya ada lima. Adanya di badan kita, Rohbana ya rohbana 2x, rubahnya bathin kita. Di dunia sabar, benar, jujur, nerima, hidup, sembuh (sadar), tumbuh, dirawat, (supaya) bagus].

    Selesai melantunkan Kidung dan Pujian Alam, pemimpin kelompok, Takmad Diningrat, membeberkan cerita pewayangan tentang kisah Pandawa Lima dan guru spiritual mereka, Semar. Usai paparan wayang, Pak Takmad memberikan petuah-petuah kepada para pengikutnya. Paparan wayang dan petuah ini berlangsung hingga tengah malam. Usai itu, para lelaki menuju ke sungai yang terletak di belakang benteng padepokan. Di sungai dangkal itu mereka berendam dalam posisi telantang, yang muncul hanya bagian mukanya saja. Mereka berendam hingga matahari terbit. Ritual beremdam ini disebut kungkum.

    Siang harinya, di saat sinar matahari sedang terik, mereka berjemur diri, yang berlangsung mulai sekitar jam 9 hingga tengah hari. Ritual ini disebut pepe.

    Medar (menceritakan) cerita pewayangan, kungkum (berendam), pepe (berjemur) dan melantunkan Kidung dan Pujian Alam, adalah kegiatan ritual mereka yang dilakukan setiap anggota ini sehari-hari. Kegiatan secara massal hanya dilakukan pada setiap malam jum’at kliwon.

    Ritual-ritual ini pada dasarnya adalah sebagai upaya menyatukan diri dengan alam, serta cara mereka melatih kesabaran. Semua ini dilakukan tanpa ada paksaan. “Bagi yang mampu silahkan melakukannya, tapi bagi yang tidak mampu, tidak perlu melakukan, atau lakukan semampunya saja,” ungkapnya.

    Telaga Remis

    TELAGA REMIS sebuah obyek wisata terletak di Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Jaraknya ±37 km ke arah utara dari kota Kuningan dan ±13 km ke arah selatan dari kota Cirebon.Terletak kurang lebih 20 km-an dari kota Cirebon ke arah Majalengka, telaga ini tersembunyi diantara rerimbunan pohon pinus dan bebatuan cadas. Telaga yang asri dan sejuk ini belum tersentuh pengelolaan yang baik, walaupun beberapa ratus meter dibawahnya banyak terdapat rumah-rumah makan yang menyediakan menu ikan sebagai sajian utamanya. Telaga Remis sebenarnya sudah masuh ke wilayah Kabupaten Kuningan, tetapi lebih dekat dicapai dari Cirebon. Untuk pergi kesana ikuti rute jalan ke arah Kabupaten Majalengka, dan sebelum sentra penambangan batu Bobos belok ke kiri menuju Cikalahang. Telaga Remis terletak di atas desa Cikalahang.



    Sebenernya kita sudah sering pergi ke Cikalahang untuk sekedar refreshing sambil berwisata kuliner disini, tapi belum pernah mampir ke Telaga Remis. Maklum saja.. di daerah ini sumber air yang berlimpah memungkinkan orang membuat kolam-kolam untuk pemeliharaan ikan air tawar. Banyak sudah restoran-restoran yang didirikan disini, dan tiap akhir minggu hampir semuanya penuh. Masakannya cukup enak dan harganya-pun boleh dikatakan tidak terlalu mahal. Salah satu rumah makan langganan kita adalah Rumah Makan Kharitzma. Masakannya enak, karena ikan disini selalu fresh, nangkep dari kolam sendiri. Suasana di rumah makan ini juga cukup nyaman, karena saung-saungnya yang berdiri di atas kolam cukup banyak. Jadi sambil nenyantap masakan disini kita juga bisa melihat ikan-ikan koi yang berada di kolam dibawahnya.

    Naah, sebenarnya sentra rumah makan ikan ini dulunya dibangun dengan mendompleng nama Telaga Remis juga. Sayangnya karena pengelolaan tempat wisata di Telaga Remis yang kurang memadai, sekarang justru daerah Cikalahang yang jadi tempat tujuan utama untuk wisata kuliner keluarga. Orang-orang jadi malas pergi ke Telaga Remis

    Sintren, Sebuah Seni Dengan Unsur Magis



    Sintren merupakan kesenian rakyat yang telah mengakar di pesisir utara Jawa, khususnya Cirebon & Indramayu. Ada beberapa pengertian tentang sintren. Ada yang menafsirkan bahwa sintren berasal dari kata sesantrian, yang artinya meniru perilaku dan cara berpakaian santri. Ada pula yang menafsirkan sintren itu berasal dari kata sintru, yang artinya angker. Apapun pengertian dari sintren, kesenian ini memang unik, bahkan kalau bisa dibilang penuh unsur magis di dalamnya, namun tetap mempesona.

    Kesenian sintren terdiri dari juru kawih atau sinden, diiringi beberapa alat musik, seperti gamelan, sebuah alat musik pukul menyerupai gentong, rebana, gendang, gong, dan kecrek. Sebelum pertunjukan dimulai, seorang sinden menyanyikan sebuah tembang yang dimaksudkan untuk memanggil para penonton agar segera berkumpul. Sang sinden biasanya menembang sebanyak dua kali. Pertama dimaksudkan untuk mengundang penonton, dan berikutnya bertujuan memanggil seorang sintren keluar. Syair tembang yang pertama berbunyi sebagai berikut: Tambak tambak pawon. Isie dandang kukusan. Ari kebul-kebul wong nontone pada kumpul. Sedangkan syair tembang yang kedua berbunyi sebagai berikut: Kembang trate. Dituku disebrang kana. Kartini dirante Kang rante aran mang rana.

    Unsur magis dalam pertunjukan sintren terlihat dengan adanya juru sintren yang bertugas memanggil bidadari. Bidadari ini kemudian merasuk di dalam raga pesintren. Pemain sintren diharuskan perempuan yang masih gadis belia antara usia 15-16 tahun, dan masih perawan. Dan syarat ini tak boleh dilanggar. Alasannya, jika seorang sintren tidak lagi perawan, bidadari yang dipanggil dari kahyangan tidak akan turun ke dalam arena pertunjukan. Rohnya tidak akan sudi merasuk ke diri seorang sintren. Bidadari harus bersih.

    Pertunjukan sintren layaknya permainan sulap. Diiringi tetabuhan khas daerah pesisir, sintren diikat dengan seutas tali, dari mulai leher hingga kaki. Secara akal sehat, sang penari tak bisa lagi bergerak, apalagi melepaskan tali itu dalam waktu yangs angat singkat. Kemudian sintren dibaringkan di atas tikar dan dibungkus dengan tikar tersebut. Selanjutnya sintren dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang telah ditutup kain, setelah sebelumnya diberi bekal pakaian pengganti. Dalam prosesi ini, pawang sintren membawa pedupaan, tempat kemenyan dibakar, serta membaca doa. Suasana mistis mendadak muncul. Itulah saat di mana bidadari sudah turun dari kahyangan, berada di sisi penari sintren dan merasuk. Sinden berulang-ulang menembang, sebagai berikut: gulung-gulung kasa. Ana sintren masih turu. Wong nontone buru-buru. Ana sintren masih baru.

    Tanpa bantuan orang lain, secara logika, tak mungkin sintren bisa meloloskan diri dari ikatan tali dan berganti pakaian begitu cepat. Tapi, ketika kurungan dibuka sintren telah berganti pakaian, dan tali pun sudah lepas. Ajaib memang. Kemudian sintren menari dengan monoton, lucunya sintren menari menggunakan kacamata hitam. Para penonton yang berdesak-desakan mulai melempari sintren dengan uang logam, dan begitu uang logam mengenai tubuhnya, maka sintren akan jatuh pingsan. Sintren akan sadar kembali dan menari setelah diberi jampi-jampi oleh pawang. Fenomena ajaib ini sampai sekarang belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Di kalangan masyarakat, gadis-gadis berlomba untuk menjadi sintren. Menurut kepercayaan umum, gadis-gadis yang menjadi seintren akan cepat mendapatkan jodoh. Bermain sintren tak selamanya memerlukan panggung. Mereka dapat juga bermain di halaman rumah, meski beralas tikar.


    Sintren Sebagai Simbol Kebebasan

    Memang belum ada kesepakatan tentang kapan kesenian sintren ini muncul. Namun ada satu informasi yang sedikit banyak menerangkan hal tersebut. Rumekso Setyadi yang menulis Masa Lalu Kolonial dalam Sintren Masa Kini dalam buku Penghibur(an) Masa Lalu dan Budaya Hidup Masa Kini Indonesia mengemukakan bahwa transformasi kekuasaan di pesisir dari kekuasaan Mataram ke pemerintah kolonial ditengarai sebagai munculnya kesenian sintren ini. Menurutnya, sintren adalah kesaksian dari sebuah kebudayaan kolonial yang pernah berkembang di kalangan elite birokrasi Eropa dan aristokrat pribumi, yaitu kegemaran berpesta dan dansa-dansi mewah di gedung-gedung pertunjukan. Untuk meniru gaya borjuasi kolonial, rakyat membuat suatu bentuk kesenian yang merupakan ekspresi imitasi dari sebuah produk kebudayaan elite dan kemudian terciptalah sintren.

    Menurut pelaku seniman tradisional Cirebon, sintren pernah digunakan sebagai alat perlawanan pada masa kolonial dahulu melalui syair-syair dalam lagunya. Sintren mulai dikenal dan populer pada 1940-an. Pada periode 1950-an, sintren banyak dimanfaatkan oleh puluhan partai yang berebut kekuasaan. Namun, perkembangan sintren mulai redup sejak masa Orde Baru.Terlepas dari itu, menurut saya, kesenian sintren merupakan perlambang kebebasan. Ini dapat kita lihat dari bentuk pertunjukannya. Adegan saat sintren diikat dengan seutas tali dan dimasukkan ke dalam kurungan, itu merupakan lambang kebebasan yang direnggut. Saat sintren terbebaskan dari tali yang mengikatnya merupakan simbol kebebasan. Diikuti dengan menari sebagai ekspresi dari kebebasan tadi. Berat dugaan saya, sintren muncul pada saat zaman kolonial, sebagai ekspresi sindiran pada penguasa. Benar atau tidaknya perlu dilakukan kajian lebih mendalam lagi.

    Sekarang, sintren biasanya digelar pada upacara pernikahan/hajatan atau upacara laut. Tidak hanya di Cirebon, sintren juga dapat ditemui di daerah-daerah pesisir lainnya, seperti Pamanukan, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Bahkan sintren juga bisa ditemui di Pekalongan, Tegal, dan Batang, Jawa Tengah. Belakangan, kesenian ini jarang ditemui, bahkan di tempat lahirnya sekalipun. Seperti halnya kesenian tradisional lain, sintren mulai tersisih oleh bentuk kesenian dan hiburan modern. Lalu, apakah kita membiarkan begitu saja kesenian tradisional yang menyejarah ini punah? Bukankah sintren merupakan salah satu kekayaan budaya kita? Semoga saja tidak.

    Tari Topeng Tarian Tradisional Daerah Cirebon



    Kesenian Topeng di Indonesia merniliki khasanah yang cukup beraneka, tersebar di antara kelompok budaya se-Indonesia. Dalam hal ini, Jawa Barat ikut memberikan kontribusi yang sampai sekarang sempat pula berperan serta pada pergelaran Seni Tani Topeng dalam lingkungan Nasional maupun Internasional. Di Jawa Barat, khususnya wilayah Cirebon menjadi sumber Kesenian Topeng Jawa Barat dan sampai kini mampu dipertahankan eksistensinya. Suatu kenyataan bahwa pusat Kesenian Topeng di wilayah Cirebon tersebar luas di desa-desa, bukan berpusat di Keraton. Pewarisannya dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, yaitu dari orang tua diturunkan ke sanak keluarga sebagai penerusnya yang hingga kini masih tekun mempertahankannya. Ketahanan ini disebabkan adanya kesadaran bahwa meneruskan seni leluhur (karuhun) merupakan pancen (keharusan), dan penerusannya adalah tanggung jawab sanak keluarga. Hal ini dapat terjalin karena dukungan pranata sosial masyarakatnya yang memiliki kesadaran bahwa Kesenian Topeng merupakan kelengkapan spiritual kehidupan.

    Jenis-Jenis Kesenian Topeng

    Pada rumpun Tari Topeng ini umumnya ciri setiap pelaku penari dalam memerankan karakternya menggunakan tutup muka atau kedok; yang dibuat dari bahan kayu dalam ukuran khusus dengan bentuk wajah dan warna disesuaikan dengan karakter tokoh yang akan ditarikan. Pemakaian topeng ini sebagai rias muka yang dapat diganti dalam waktu singkat. Tari topeng yang masih menggunakan tutup muka atau kedok tersebut sampai saat ini masih terdapat di beberapa daerah di Jawa Barat di antaranya yang paling baku di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka. Namun tariannya di antaranya:

    Tari Topeng Panji; bentuk topeng karakter halus warna putih ukiran mata sipit tetapi memiliki daya magis dan kedalaman pandang sebagai salah seorang yang berwibawa dan berbudi luhur.
    Tari Topeng Pamindo; bentuk topeng karakter remaja memiliki daya tarik gembira, warna hijau muda atau kadang-kadang hiasan rambut berwarna putih dan bibir sedikit terbuka.
    Tari Topeng Rumiang; bentuk topeng karakter di atas karakter Pamindo, hiasan rambut merah muda dan nampak bibir senyum seolah-olah memiliki puncak keremajaan yang mengagumkan.
    Tari Topeng Tumenggung atau Patih; bentuk topeng dewasa mata terbuka, berkumis, dahi lebar berwajah merah jambu memiliki kemampuan sebagai seorang pejabat Patih Tumenggung atau patih dari suatu kerajaan.
    Tani Topeng Kelana; bentuk topeng karakter angkuh atau sosok manusia sombong, pada ukiran ini tampak hiasan kepala memakai siger jambang, mata lebih nampak bengis berkumis tebal serta bibir gigi gereget kesan marah yang tidak puas-puas, warna muka merah tua.
    Tari topeng lainnya adalah sejenis Topeng Panakawan atau topeng yang dibuat khusus untuk penari yang bila memerankan tokoh lainnya yang sejenis. Topeng jenis ini disebut Topeng Jantuk; artinya topeng dibuat setengah hanya dari bagian hidung ke atas, bagian bawah terbuka bebas mulut asli tetap nampak.

    Topeng-topeng semacam ini di Jawa Barat umumnya dipergunakan dalam pertunjukan Topeng Banjet yang masih ada di daerah Bekasi, Depok, dan Kabupaten Bogor bagian utara.

    Kembali kepada wilayah cikal-bakal Kesenian Topeng di Jawa Barat, yaitu Cirebon, di sini terdapat Seni Topeng Babakan, Seni Wayang Wong (wayang topeng), dan Seni Bengberokan atau Bangbarongan. Kenyataannya sekarang Seni Topeng Babakan yang paling banyak tampil di masyarakat, sampai ke Mancanagara.

    Ada beberapa alasan mengapa sampai terjadi demikian. Mungkin karena Seni Topeng Babakan tidak memerlukan banyak penari yang tampil, cukup seorang penari Bodor,atau karena tariannya yang umumnya tari tunggal, lebih menarik dengan keanekaannya, berkaitan adanya perwatakan seperti Tari Topeng Panji yang halus; Tari Topeng Pamindo yang lincah, Tari Topeng Tumenggung yang gagah, dan Tari Topeng Kalana yang gagah serta garang. Adapula adegan petikan Tari Tumenggung Magangdiraja dengan Jinggaanom yang mengandung adegan perang serta melawak. Di samping munculnya bodor yang menghilangkan kejenuhan suasana, dan di sini pula dapat disampaikan pesan-pesan budi pekerti dan kemasyarakatan sambil berkomunikasi kepada penonton.

    Selain itu kemungkinan lainnya adalah banyaknya perbendaharaan gerak tari yang cukup menarik, terjalin pada setiap pemunculan perwatakan, ditambah gerakan kepala yang tertutup kedok, serta gerakan alat bantu seperti rawis (sumping), gerakan carecet (ules), serta gerakan sodernya. Perkiraan yang menyebabkan ketahanannya sepanjang masa adalah karena Topeng Babakan yang disebut Topeng Dinaan, masih terpaut kepada kebiasaan atau adat masyarakat di wilayah Cirebon yang biasa menanggapnya sehari suntuk (sedina, sadinten), sebelum nanggap Wayang Kulit pada malamnya sebagai kelengkapan suatu perhelatan pernikahan, khitanan, babarit, dan sebagainya. Khasanah Seni Topeng yang lain, di samping Topeng Babakan adalah Wayang Wong dimana para pemainnya merupakan penari yang menggunakan kedok, dengan antawacananya sendiri-sendiri.

    Kesenian Wayang Topeng bukan saja menyangkut seni tari topengnya, tapi juga seni pewayangan, seni karawitan, seni pedalangan, seni membuat kedok, termasuk pula busana Wayang Wong Jawa Barat yang memiliki ciri tersendiri. Tidak dipungkiri bahwa pada Wayang Wong dituntut pula kemampuan lain dari penari, yaitu kemampuan melakukan antawacana, atau melakukan gerakan mengikuti kata-kata Sang Dalang bila memakai kedok. Tapi sepanjang yang pernah disaksikan, para pemain Topeng Babakan juga mampu tampil sebagai pemain Wayang Topeng. Kemampuan ini merupakan living treasure yang sangat berharga, oleh karena itu tidak pantas kalau tidak dimanfaatkan bahkan dikembangkan pemasyarakatannya.

    Khasanah Kesenian Topeng lainnya yang telah dikemukakan di depan ialah Bengberokan atau Bangbarongan, yang umumnya hanya terdiri atas seorang 3%1 takUhnik dental Cutup kepada berbentuk ke.pga.Barong (beruarig), dan sekujur badannya ditutupi kain yang berbentuk karung.

    Adapun pertunjukannya dilakukan sepanjang jalan dengan iringan tetabuhan yang sangat sederhana, terdiri atas kecrek, bende, kulanter, dan perangkat kecil lainnya. Mereka biasa mengamen, dan bagi yang memberi imbalan, diyakininya akan mendapat pahala atau terhindar dari malapetaka dan wabah penyakit.

    Perkembangan Kesenian Topeng

    Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa Kesenian Topeng di wilayah Cirebon tersebar luas di desa-desa, bukan berpusat di Keraton, sehingga Kesenian Topeng Cirebon tidak hanya hidup di tengah masyarakat pendukungnya saja. Berkat kelonggaran adat dan tradisi masyarakat Jawa Barat, termasuk Cirebon, maka Kesenian Topeng Cirebon sempat menyebar ke luar wilayahnya. Biasanya pelakunya adalah para pengamen yang terpaksa mencari tambahan biaya hidup di musim paceklik. Hal ini terjadi pada akhir abad XIX sampai dengan abad XX. Selanjutnya kalangan Ningrat di wilayah Priangan menjadi tertarik untuk belajar dari para penari di Priangan. Karena Kesenian Topeng di Priangan tidak ada ikatan dengan pranata sosialmasyarakatnya, seperti di wilayah Cirebon, maka pertumbuhannya terbatas kepada jenis-jenis Tari Topeng yang digemari para penari dan penontonnya. Kondisi di Priangan tidak seutuh di Cirebon dalam pelestariannya. Walaupun demikian Tari Topeng di wilayah Priangan pernah menjadi mata acara pergelaran yang menonjol sebagai tarian tunggal.

    Penyebaran Kesenian Topeng ke sebelah Barat Jawa Barat pernah pula menyentuh seni teater daerah setempat, sehingga timbul bentuk tester yang disebut Topeng Betawi, Topeng Cisalak atau Topeng Kinang, dan Topeng Kacrit, yang dibuka dengan babak tari yang menampilkan tari topeng Akan tetapi babak-babak berikutnya menampilkan adegan teater daerah seperti Banjet di daerah Karawang dan Longser di daerah Priangan. Istilah Jipeng adalah berasal dari kata tanji dan topeng. Mungkin di masa lalu juga menampilkan Tari Topeng, namun kini tinggal pertunjukan musik dengan menggunakan alat tiup dari barat.

    Topeng Babakan menjadi sumber pertumbuhan topeng tunggal di wilayah Priangan, seperti Topeng Kalana, Topeng Menakjingga, Topeng Koncaran (R. Tjetje Somantni), serta tari Topeng Tiga Watak (Nugraha Sudireja). Demikian pula dengan thing Keurseus yang sudah menyebar di seluruh Jawa Barat, menurut pemrakarsanya R. Sambas Wirakusumah, ketua Wirahma Sari Rancaekek, adalah diilharni rumpun Tari Topeng Babakan. Selanjutnya karya besar Sendratari Ramayana yang mewakili Jawa Barat pada Festival Ramayana International di Pandaan Jawa Timur pada tahun 1971, telah banyak menggunakan unsur-unsur Topeng Babakan.

    Menurut Dr. TH. Pigeaud dalam bukunya Javaanse Volksvertoningen, Topeng Wayang di Jawa Barat pernah tersebar di Priangan bahkan sampai ke Banten. Sebagai salah satu bukti dikemukakannya pula bahwa koleksi kedok suatu wayang topeng berupa kedok sebanyak 27 buah yang pernah dimiliki Patih Sumedang R. Rangga Soeriadihardja kith masih ada, dan tersimpan secara rapi di Museum Mangkunegaran, Surakarta. Juga terdapat koleksi Mayor China Tan Tjin Kie sebanyak 48 bush kedok berasal dari Cirebon. Di Filed Museum, Chicago, USA terdapat koleksi perlengkapan Wayang Topeng dari Sukabumi yang lengkap dengan busananya, di antaranya tutup kepala yang masih terbuat dan bahan logam (seng) yang disebut Kelingan, karena sambungannya dikerjakan dengan cara dikeling. Dari Serang, Banten juga masih tersimpan koleksi kelengkapan wayang topengnya.

    Tempat Wisata di Majalengka

    Majalengka merupakan salah satu kota yang berada di Jawa Baratdan berbatasan dengan Indramayu di utara,Cirebon dan Kuningan di timur, Ciamis danTasikmalaya di selatan, serta Sumedang di sebelah barat. Jalan Kyai Haji Abdul Halimmerupakan jalur utama dari Ibukota kabupaten Majalengka, yang memisahkan kota Majalengka dan ujungnya di Perempatan Cigasong, sebagai jalan utama yang paling di perhatikan pemerintah Kabupaten Majalengka, Jalan ini selalu di Perluas sewaktu akan memasuki Hari Raya Idul Fitri ataupun hari besar lain nya.

    Berikut ini yoshiewafa menyediakan info tempat wisata di Majalengka dan sekitarnya yang menarik untuk Anda kunjungi seperti wisata alam, wisata bersejarah, wisata budaya, wisata religi, tempat rekreasi dan macam wisata lainnya sebagai berikut :

    1. Air Terjun Cilutung


    Air Terjun Cilutung
    Objek Wisata ini memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan, namun lokasi ini belum terkelola dengan baik. Akses menuju lokasi tersebut sudah cukup baik tetapi belum adanya angkutan umum untuk menuju lokasi tersebut. Oleh karena itu, objek wisata ini memerlukan perhatian yang lebih dalam menangani potensi pariwisata yang ada di Desa Talaga Kulon, sehingga Air Terjun Cilutung dapat dikembangkan menjadi objek wisata yang dapat menarik minat pengunjung.

    Lokasi : Desa Campaga Kecamatan Talaga, sekitar 28 Km lebih jika dari  pusat Kota Majalengka.

    2. Air Terjun Cibali


    Air Terjun Cibali
    Objek wisata ini pada umumnya sering di kunjungi oleh para pelajar yang datang pada waktu libur. Objek wisata Air Terjun Cibali ini belum terkelola dengan baik. Untuk akses menuju lokasi tersebut kurang baik dan angkutan umum yang menuju ke tempat wisata ini belum ada. Sedangkan fasilitas di tempat wisata ini belum dibangun.

    Lokasi : Desa Cikondang Kecamatan Cingambul yang memiliki jarak +39 km dari pusat kota Majalengka.

    3. Curug Muarajaya


    Curug Muarajaya
    Curug merupakan air terjun yang tumpahan airnya mengalir deras membelah di puncak bukit. Tumpahan air itu menyajikan panorama indah pada birunya langit, sejuknya udara, dan hijaunya pepohonan yang menyelimuti suasana wisata yang berada di Kecamatan Argapura. Selain itu terdapat pula lapangan sebagai areal untuk camping bagi para pengunjung, tempat ini dapat dijadikan alternatif bagi pengunjung yang memiliki hobi berpetualang.

    Lokasi : Gunung Ceremai, Desa Argamukti, Kecamatan Argapura, Lebih kurang 4 jam dari pusat Kota Bandung.

    Info Lebih Lanjut : Majalengka Regional Tourism & Culture Office, Jl. Gerakan Koperasi, Majalengka, Tlp. (0233) 282285, e-mail: kabmajalengka@westjava-indonesia.com

    4. Curug Tonjong


    Curug Tonjong
    Curug Tonjong menawarkan keindahan alam yang asri dan alami berupa aliran sungai dengan air terjun yang cukup deras walaupun tidak terlalu tinggi ditambah dengan batu-batuan besar yang terdapat disepanjang aliran sungai. Keunikan darilokasi wisata ini adalah jembatan bambu yang sengaja dibuat sehingga pengunjung dapat menikmati keindahan lokasi ini ketika melewatinya sampai ke puncak curug serta pada nilai alamiah, sejuknya udara, dan beningnya air sungai yang mengalir.

    Lokasi : Desa Teja kecamatan Rajagaluh, sekitar 20km lebih jika dari Kota Majalengka disebelah Timur.

    5. Panorama Cikebo


    Panorama Cikebo
    Panorama Cikebo berada di Desa Tegal Sari Kecamatan Maja, dengan jarak tempuh lebih dari 14 km dari pusat Kota Majalengka. Objek dan daya tarik Panorama Cikebo memiliki pemandangan yang indah dan dapat dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat dan tempat bakar jagung bagi pengunjung. Akses untuk menuju lokasi objek wisata ini cukup baik karena berada dipinggir jalan dan dilalui oleh angkutan umum. Fasilitas yang terdapat disana yaitu tempat istirahat dan tempat bakar jagung.

    6. Agro Batu Luhur
    Lokasi : Desa Jerukleueut, Kecamatan Sindangwangi. sekitar lebih dari 22 km dari pusat Kota Majalengka

    7. Curug Sawer
    Lokasi : Desa Argalingga, Kecamatan Argapura. Dimana jarak yang harus ditempuh untuk menuju curug ini yaitu +21.5 km dari pusat kota Majalengka.

    8. Situ Sangiang (Makam Sunan Parung)
    Lokasi : 800 m atau  sebelum kota Talaga dari arah selatan. Kawasan tersebut terletak pada ketinggian tanah antara 600-800 m.

    9. Situ Janawi
    Lokasi : Desa Teja, Kecamatan Rajagaluh, jarak tempuh sekitar 25 km dari pusat Kota Majalengka.

    10. Situ Cipanten
    Lokasi : Desa Gunung Kuning, Kecamatan Sindang.

    11. Situ Batu
    Lokasi : Desa Malausma, kecamatan Malausma, jarak tempuh lebih dari 46 km dari pusat Kota Majalengka.

    12. Situ Cikuda
    Lokasi : Desa Padaherang, Kecamatan Sindangwangi, jarak tempuh lebih dari 25 Km dari pusat Kota Majalengka.

    13. Situ Cijawura
    Lokasi : Desa Kertajati, Kecamatan Kertajati, jarak tempuh lebih dari 28 km dari pusat Kota Majalengka.

    14. Situ Anggrahan
    Lokasi : Desa Pilangsari, Kecamatan Jatitujuh, jarak tempuh lebih dari 35 Km dari pusat kota Majalengka

    15. Talaga Herang
    Lokasi : Sebuah danau kecil yang berada di perbatasan tiga desa yaitu Jerukleueut, Padaherang, dan Desa Lengkongkulon di distrik Sindangwangi, Kota Majalengka, Jawa Barat.

    16. Gunung Batu Tilu
    Lokasi : Desa Jatimulya Kecamatan Kasokandel, jarak tempuh lebih dari 8 Km dari pusat Kota Majalengka.

    17. Panorama lemahputih
    Lokasi : Desa Lemahputih, Kecamatan Lemahsugih, jarak tempuh lebih dari 47 km dari pusat kota Majalengka.

    18. Bendungan Rentang
    Lokasi : Desa Jatitujuh Kecamatan Jatitujuh, jarak tempuh lebih dari 30 Km dari  pusat Kota Majalengka.

    19. Makam Eyang Natakhusuma
    Lokasi : Desa Talaga Wetan Kecamatan Talaga, jarak tempuh lebih dari 26 Km dari pusat Kota Majalengka.

    20. Makam Buyut Israh
    Lokasi : Desa Sukasari Kidul Kecamatan Argapura, jarak tempuh lebih dari 15 Km dari pusat Kota Majalengka.

    21. Museum Talaga Manggung
    Lokasi : Desa Talaga Wetan, Kecamatan Talaga, jarak tempuh lebih dari 26 km dari pusat kota Majalengka.

    22. Makam Buyut Kyai Arsitem
    Lokasi : Desa Sumber Wetan Kecamatan Jatitujuh, jarak tempuh lebih dari 37 Km dari pusat Kota Majalengka

    23. Makam Pangeran Muhammad
    Lokasi : Terletak di Desa Cicurug kecamatan Majalengka, tengah persawahan di kawasan perbukitan dan berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Majalengka.

    24. Petilasan Prabu Siliwangi
    Lokasi : Kampung Pajajar, Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh.

    25. Sumur Dalem
    Lokasi : Desa Pilangsari Kecamatan Jatitujuh, jarak tempuh lebih dari 33 Km dari pusat Kota Majalengka.

    26. Sumur Sindu
    Lokasi : Desa Sumber Wetan Kecamatan Jatitujuh, jarak tempuh lebih dari 37 Km dari pusat Kota Majalengka.

    27. Rumah Adat Panjalin
    Lokasi : Kampung Penjalin, Desa Panjalin, Cikalong Wetan. berjarak sekitar 23 km dari Majalengka.

    28. Topeng Beber
    Lokasi : Seluruh Kabupaten Majalengka.

    29. Upacara Mapag Sri
    Lokasi : Kampung Leuwi Panas, Desa Sinar Jati, Kecamatan  Dawuan.

    30. Wisata Prabu Siliwangi
    Lokasi : Desa Pajajar, Kecamatan Rajagaluh.

    31. Seni Beluk
    Lokasi : Majalengka

    32. Batik Majalengka
    Lokasi : Seluruh Kabupaten Majalengka

    Tidak kalah menariknya bukan ? Tempat wisata Majalengka lengkap dengan alamat lokasi wisata Majalengka. Semoga bermanfaat untuk Anda yang membutuhkan info wisata di kota Majalengka, Jawa Barat, Pulau Jawa, Indonesia.

    Mengenal Lebih Dekat Budaya Dermayu


    Mungkin ada yang menganggap kebudayaan adalah kesenian. Mungkin juga ada yang berpendapat kebudayaan Indramayu itu adalah tari topeng, tarling, sandiwara, dan jenis kesenian lainnya. Jadi, budaya Dermayu itu, ya kesenian yang ada di Indramayu. Benarkah demikian? Boleh dikatakan tidak terlalu salah, tetapi juga tidak terlalu benar. Lalu, apa sih budaya Dermayu?
    Mengenai kebudayaan, ternyata ada 150 batasan/definisi. Coba simak definisi kebudayaan, seperti dikatakan Clyde Kluckhohn (1949): (1) Cara hidup masyarakat, (2) Adat sosial tingkah laku individu, (3) Cara berpikir, merasakan, dan mempercayai, (4) Tingkah laku abstark, (4) Tata cara hidup dalam keluarga, (5) Standar orientasi untuk mengatur masalah.

    Kalau menurut Ki Hajar Dewantara, begini: “Budaya berasal dari kata budi, di artikan sebagai jiwa yang telah masak. Kebudayaan itu buah budi manusia. Pada pokoknya terdiri dari tiga kekuatan manusia, yaitu cipta, rasa, dan karsa, atau pikiran, perasaan, dan kemauan.”
    Ada lagi pendapat Sutan Takdir Alisjahbana, bahwa kebudayaan adalah pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan-dorongan hidup yang dasar, insting, perasaan, pikiran, kemauan, dan fantasi yang dinamakan budi.”
    Cukup banyak, cukup abstrak, dan cukup ruwet kan? Nah, supaya tidak ruwet, kita uraikan saja secara umum bagian-bagian kebudayaan seperti ini, yaitu: (1) Adat-istiadat, (2) Alat dan perlengkapan hidup, (3) Mata pencaharian, (4) Kesenian, (5) Bahasa dan sastra, (6) Sejarah manusia, (7) Sistem religi. Agar tampak jelas, kebudayaan Indramayu bisa diuraikan secara terperinci.

    ***

    Sekarang kita kerucutkan pada kebudayaan Indramayu. Coba kita uraikan, ada apa saja budaya Dermayu itu? Kita uraikan satu-persatu, ya?
    Budaya dalam Indramayu itu terdiri dari:

    (1) Adat-istiadat Indramayu:
    a. Upacara adat desa : sedekah bumi, mapag sri, ngunjung, nadran, baritan, ngarot, dsb.
    • Sedekah bumi: Syukuran warga desa setelah masim tanam padi. Biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di balaidesa, dengan lakon Bumi Loka atau asal-usul padi dari Dewi Sri.
    • Mapag Sri: Syukuran warga desa menjelang musim panen padi. Biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di balaidesa, dengan lakon Bumi Loka atau asal-usul padi dari Dewi Sri.
    • Ngunjung: Ziarah kubur ke luluhur desa. Biasanya digelar doa bersama dan pertunjukan wayang golek cepak/menak di areal kuburan desa, dengan lakon babad desa tersebut.
    • Nadran: Syukuran nelayan, biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di areal koperasi nelayan, dengan lakon Budug Basu atau asal-usul ikan.
    • Baritan: Upacara tolak bala/penyakit, biasanya menggelar pertunjukan wayang golek cepak/menak atau doa bersama, bertempat di perempatan desa atau kuburan desa.
    • Ngarot: Syukuran warga beberapa desa di Kecamatan Lelea dan Cidekung menjelang musim tanam padi. Dari balaidesa, Kuwu memberikan alat-alat pertanian kepada kaum muda laki-laki dan bibit tanaman padi kepada kaum muda perempuan. Mereka berkeliling desa, kembali ke balaidesa. Digelar pertunjukan Topeng Lanangyang ditonton kaum perempuan, dan pertunjukan Ronggeng Ketukyang ditonton kaum laki-laki.
    • Mapag Tamba: Pengaruh Ki Kuwu Sangkan sejak abad ke-15/16 demikian kuatnya, sampai-sampai setiap usai musim tanam padi, dilakukan ritual mapag tamba. Tamba (obat) diambil dari Keraton Cirebon kemudian dijadikan obat untuk tanaman padi.
    Karnaval nadran di Cirebon & Indramayu

    b. Upacara adat dalam keluarga : hajatan perkawinan, khitanan, rasulan, adat wanita mengandung sampai melahirkan, adat kematian, dsb.
    • Hajatan perkawinan: Syukuran setelah ijab qabul menikah, digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
    • Hajatan khitanan: Syukuran setelah atau berbarengan pada saat anak laki-laki dikhitan, digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
    • Hajatan rasulan: Syukuran untuk anak perempuan (mungkin karena tak punya anak laki-laki), digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
    • Adat wanita mengandung sampai bayi dilahirkan: Dari mulai ngupati(kandungan 4 bulan), mitung wulan (kandungan 7 bulan), bubur lolos(8 bulan), bancakan lenga (9 bulan), syukuran bayi lahir, coplok wudel (usia bayi antara 3-15 hari), gawe aran (usia bayi 1-2 minggu), cukur rambut bayi (usia bayi 40 hari), udun-udunan (usia anak 7 bulan).
    • Adat kematian: Dari mulai memperingati kematian nelung dina (3 hari), mitung dina (7 hari), matang puluh (40 hari), ngatus (100 hari), ngewu (1000 hari).
    c. Adat gotong-royong, tolong-menolong, dsb.: memperbaiki jalan, lingkungan, solokan, memberantas hama tikus, membuat rumah, membuat tempat ibadah, dsb.

    (2) Mata pencaharian penduduk tradisional Indramayu:
    a. Petani: Bersawah tadah hujan (kini: dengan pengauran teknis), berladang, berkebun.
    b. Nelayan: Menangkap berbagai jenis ikan di laut dengan perahu atau kapal tradisional.
    c. Pedagang: Berdagang hasil pertanian, barang-barang lain, dsb.
    d. Buruh: Bekerja di sawah, ladang, atau pekerjaan serabutan lainnya.



    (3) Alat, produksi, dan perlengkapan hidup:
    a. Kerajinan alat-alat pertanian: cangkul, golok, pedang, sabit, garu, dsb.
    b. Kerajinan alat-alat dan perlengkapan nelayan: perahu, kapal, jaring, dsb.
    c. Kerajinan alat angkutan tradisional: pedati, dokar, gerobak, dsb.
    d. Keterampilan membuat rumah: Rumah berbagai model arsitektur.
    e. Keterampilan membuat busana: Batik dan tenun dalam bentuk baju, celana, kain, dsb.
    f. Keterampilan membuat wadah tertentu: Wadah air, wadah beras, wadah uang, dsb.
    g. Keterampilan membuat alat rumah tangga: Alat dapur, perabotan rumah tangga, dsb.
    h. Keterampilan membuat makanan: Makanan khas (nasi lengko, pedesan entog, empal, sate, grejeg, dsb.),  kue-kue tradisional (koci, sempora, wajik, dodol, jalabia, bugis, tape, cikak, dsb.)

    (4) Kesenian Indramayu:
    a. Seni Rupa: kedok, wayang kulit, wayang golek, lukisan kaca, melukis di perahu, melukis di becak, lukisan layar sandiwara, ornamen rumah, dsb.
    b. Seni Teater: Sandiwara, Tarling, Wayang kulit, wayang golek.
    c. Seni Musik: Musik tarling, gamelan wayang kulit, gamelan wayang golek, gamelan sandiwara, gamelan tari topeng, tari tayuban, kliningan, renteng.
    d. Seni Suara: Lagu dalam macapat, lagu dalam tarling, lagu dalam sandiwara, lagu dalam wayang kulit, lagu dalam wayang golek.
    e. Seni Sastra: Syair macapat.


    (5) Bahasa dan sastra Indramayu:                                                                       
    Secara umum banyak dipengaruhi oleh bahasa Jawa, yakni dari;
    a. Penyebaran agama Islam oleh para Wali maupun ulama dan Ki Gede dari Demak dan Cirebon.
    b. Pengaruh Mataram Sultan Agung secara politik maupun budaya, yang kemudian menciptakan tingkatan (undak-usuk bahasa). Kini di Indramayu hanya dikenal dua tingkatan, yakni bahasa ngoko/bagongan (kasar) dankrama (halus), atau bahasa pedinan dan bebasan.
    c. Pengaruh dari SR (Sekolah Rakyat), SGB (Sekolah Guru Baru), SGA (Sekola Guru Atas) yang guru-gurunya mayoritas dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dan mengajarkan bahasa Jawa Wetan.
    d. Bahasa: 2 tingkatan (Ngoko/Bagongan/Padinan dengan Krama/Bebasan)
    • Ngoko/bagongan/padinan: Digunakan sehari-hari, dianggap lebih komunikatif walaupun kurang halus. Merupakan rumpun bahasa Jawa pesisir (atau menurut Perda Jabar No. 5/2003 adalah bahasa Cirebon).
    • · Krama/Bebasan: Digunakan saat berbicara dengan orang tua, orang yang lebih dewasa atau lebih tua, dianggap lebih halus dan sopan. Merupakan rumpun bahasa Jawa pesisir (atau menurut Perda Jabar No. 5/2003 adalah bahasa Cirebon).
    e. Sastra: Purwakanti, Wangsalan, Parikan, Pribasa, Gugon Tuwon, Jawokan.
    • Purwakanti: Persamaan bunyi akhir di tiap baris (rima).
               Contoh: Sedina
                            sun kelaya
                            Seminggu
                            sun kelayu
                            Sewulan
                            sun kēlingan
                            Setaun
                            Sun keyungyun
    • Wangsalan: Wangsal-wangsul; jawab-pulang; kalimat yang mengungkapkan maksud dengan menggunakan kata-kata yang mirip atau mendekati maksud.
              Contoh: krikil kali, bokat wis waktunē
                           (krikil kali adalah watu, diasosiakan sebagai waktu)
    • Parikan: Pantun dalam bahasa daerah.
              Contoh: Mangan lepet mangan sempora
                           Mangan koci katut kulitē
                           Demen ruket bli kira-kira
                           Dadi siji angēl awitē

    • Pribasa: Peribahasa dalam istilah dan bahasa daerah.
              Contoh: Gedongana koncēnana
              Wong mati mangsa wurunga

    • Gugon Tuwon: Sebuah kalimat yang mengandung nasehat, mengajarkan tentang hidup, dan perilaku yang semestinya dijalani manusia. Berasal dari kata gugu (ditaati, diikuti) dan tuwa (orangtua).
             Contoh gugon tuwon dari Sunan Gunungjati:
             Ingsun titip tajug lan fakir miskin.
             Arti: Aku (Sunan Gunungjati) titipkan tajug/mushola/masjid dan fakir miskin.
             Yen kiyeng tamtu pareng, yen bodoh kudu weruh, yen pinter aja keblinger.
             Arti: Jika tekun pasti berhasil, jika bodoh harus berpengetahuan, jika pandai jangan pandai menurut diri-        sendiri dan seenak sendiri.
             Yen sembahyang kungsiya pucuke panah
             Arti: Jika sholat seperti berada pada ujung panah.
    • Jawokan: Susunan kata-kata dalam suatu kalimat, yang terdiri dari satu kalimat atau lebih yang berfungsi sebagai mantra atau doa.
              Contoh: Niat isun arep maca kemat jaran guyang
                           Dudu ngemat-ngemat tangga
                           Dudu ngemat wong liwat ning dalan
                           Sing tek kemat Nok Suratminah
                           Anakē Bapa Dam kang dunyaē lelantakan
                           Yēn lagi turu gagē nglilira

                   Yēn wis nglilir gagē njagonga
                   Yēn wis njagong gagē ngadega
                           Mlayua mbrengēngē kaya jaran sedalan-dalan
                           Teka welas teka asih
                          Nok Suratminah welas asih ning badan isun”

    (6) Sejarah manusia Indramayu:
    a. Adanya Kerajaan Manukrawa pada abad ke-5 di sekitar hilir sungai Cimanuk (berdasar Naskah Wangsakerta).
    b. Kerajaan Sumedanglarang ketika berdiri pada abad ke-8, batas wilayahnya mencapai daerah-daerah yang sekarang termasuk Kabupaten Indramayu (Lelea, Kandanghaur).
    c. Ulama Syeh Datuk Kahfi/Syeh Idhofi/Syeh Nurjati (adik ipar Sultan Sulaiman dari Baghdad) pada tahun 1420 tiba di Cirebon dan menetap di Pesambangan, Giri Amparan Jati. Pengaruhnya sampai Indramayu. Petilasannya ada di Desa Pabean Ilir Kec. Pasekan.
    d. Makam Pangeran Guru (Pangeran Selawe) di Desa Dermayu Kec. Sindang, bermotifkan ”surya majapahit”, yang mengindikasikan pengaruh Majapahit pada abad ke-15 sudah sampai ke Indramayu.
    e. Kerajaan Cirebon ketika baru berdiri tahun 1479, batas wilayah ke barat sampai daerah Junti. Batas lainnya adalah Losari (timur), Palimanan (selatan), Cigugur Kuningan (tenggara).
    f. Pengelana Portugis, Tom Pires, pada tahun 1513 mencatat adanya pelabuhan Cimanuk, yang merupakan pelabuhan terbesar kedua setelahKalapa (Sundakalapa). Pelabuhan lainnya adalah Bantam (Banten),Pomdam (Pontang), Cheguide (Cigede), Tamgaram (Tangerang).Masyarakat sekitar pelabuhan Cimanuk sudah muslim, tetapi syahbandarnya penyembah berhala dari Kerajaan Sunda/Pajajaran.
    g. Naskah Wangsakerta menyebutkan, Wiralodra adalah prajurit Mataram Sultan Agung yang ikut menyerbu Batavia (1628-1629) yang mengalami kekalahan. Dia ditugasi untuk menetap di Cimanuk untuk membuka pesawahan baru. Kelak menjadi Adipati di Indramayu. Versi lain, menyebut Wiralodra dari Demak.
    h. Pengaruh Sultan Agung yang menguasai daerah-daerah di Jawa Barat selama 57 tahun (1620-1677).

    (7) Sistem religi dan kepercayaan yang berkembang di Indramayu:
    a. Upacara keagamaan.
    b. Kepercayaan adanya Tuhan.
    c. Sistem nilai dan pandangan hidup.

    ***

    Jika sudah mengetahui uraian di atas, bagian-bagian kebudayaan memang luas kan? Dan ternyata budaya Dermayu itu cukup kaya kan? Jadi, kalau mengatakan budaya Dermayu itu hanya kesenian belaka, itu baru sebagian kecil saja. Sebab kebudayaan bukan hanya kesenian, tetapi juga ada adat-istiadat, alat dan perlengkapan hidup dan produksi, mata pencaharian, bahasa dan sastra, sejarah manusia, dan sitem religi. (Sumber. Supali Kasim)

    Keraton Kanoman Cirebon


    Tidak jauh dari Kraton Kasepuhan terdapat sebuah Kraton lain bernama Kraton Kanoman yang di bangun pada tahun 1588 oleh Sultan Badaruddin yang memisahkan diri dari Kesultanan utama Cirebon karena berbeda pendapat dengan saudaranya mengenai siapa yang berhak menjadi ahli waris Kesultanan Cirebon.
    Sebagaimana umumnya Kraton di Jawa, Bangunan Kraton Kanoman seluruhnya menghadap ke utara. Di luar bangunan Kraton terdapat sebuah bangunan bergaya bali yang disebut dengan Balai Manguntur yang terbuat dari Batu merah. Di dekat bangunan Balai Maguntur ini terdapat sebuah pohon beringin yang berukuran besar. Fungsi bangunan ini adalah tempat kedudukan Sultan apabila menghadiri Upacara seperti apel prajurit atau menyaksikan pemukulan gamelan Sekaten pada tanggal 8 Maulid dan lain-lain. Ada juga masyarakat yang mengatakan bahwa Balai Maguntur diartikan sebagai Balai mangunn tutur yang artinya tempat sultan berpidato atau berbicara kepada masyarakat tentang hukum dan agama.


    Setelah melewati patung berbentuk naga, pengunjung akan sampai di bangunan Kraton Kanoman, sebuah istana yang lebih kecil ukurannya dari pada Kraton Kasepuhan. Kraton Kanoman mempunyai pendopo dengan sebuah altar di dalamnya, di sini terdapat koleksi piring-piring antik dari Eropa.


                  
               
    Kraton Kanoman juga mempunyai museum dengan pintu-pintunya yang berukir, koleksi terpenting museum ini adalah Kereta Perang Paksi Naga Liman dan Kereta Jempana dengan bentuk mirip seperti kereta pada Kraton Kasepuhan, Kereta yang terdapat di Krataon Kanoman ini di klaim sebagai yang kereta yang lebih tua. Bahkan kerata yang disebut-sebut merupakan duplikat dari kereta yang terdapat di Keraton Kanoman. Koleksi museum lainnya adalah aneka senjata seperti keris dan tombak, gamelan dan lain-lain.

    Museum yang terdapat di Kraton Kanoman ini tidak memiliki jadwal kunjungan yang teratur. Pengunjung yang datang kesini harus melapor dan mengisi buku tamu dan pemandu akan membukakan pintu museum dan menemani pengunjung berjalan mengelilingi museum. Selesai mengunjungi Kraton Kanoman ada baiknya anda melihat-lihat Pasar Kanoman yang terletak persis di depan Kraton.
     
    Support : Copyright © 2011. KLIK CIREBON - All Rights Reserved
    Proudly powered by Blogger