Headlines News :
    Showing posts with label Indramayu. Show all posts
    Showing posts with label Indramayu. Show all posts

    Hajatan & Kesenian, Sebuah Simbiosis Mutualisme Masyarakat Pantura


    Selama berpuluh-puluh tahun eksistensi berbagai jenis seni pertunjukan di tatar Cerbon-Dermayu sulit dilepaskan dari acara hajatan. Seperti simbiosismutualime, ada hubungan saling bergantung dan saling untung. Kesenian dihidupsuburkan karena banyaknya order acara hajatan, dan hajatan menjadi meriah, berkesan, dan bermakna karena kreasi kesenian. Hajatan keluarga, seperti khitanan, perkawinan, rasulan, puputan, ruwatan, ataupun syukuran lainnya senantiasa membutuhkan kesenian daerah. Demikian pula hajatan desa atau kelompok masyarakat, seperti mapag sri, sedekah bumi, ngunjung, barikan/baritan, nadran, ataupun ngarot. Di wilayah kultural yang meliputi Kab. dan Kota Cirebon, Kab. Indramayu, wilayah utara Kab. Majalengka, utara Kab. Subang, dan utara Kab. Karawang, hingga ke sebagian Kab. Brebes dan Tegal tersebut, simbiosis itu tampak.

    Wayang golek cepak/menak, misalnya, pada dasawarsa 1950-an hingga 1970-an termasuk jenis kesenian yang laris-manis, karena kebutuhan khusus untuk acara ngunjung, barikan/baritan, atau hajatan keluarga. Tidaklah heran jika seorang dalang wayang golek cepak bisa mendapatkan order hingga 20 panggungan/bulan. Cerita babad desa, penyebaran Islam, ataupun para sahabat Nabi yang menjadi inti cerita kesenian tersebut, sangat digandrungi penonton saat itu.

    Tampaknya hajatan bukan hanya hiburan dan kemeriahan, ada kebutuhan lain yang lebih mendasar, yakni kontemplasi. Tidak heran pula jika wayang kulit senantiasa dihadirkan pada acara nadran untuk menghadirkan kembali pemahaman bahwa lautan adalah sisi penting kehidupan nelayan melalui lakon budug basu. Begitu pula lakon-lakon lain pada hajatan keluarga sebagai penghayatan kembali atas realitas sosial-politik melalui wayang yang disajikan secara tragis maupun satir. 

    Sesuatu yang diidealkan, dengan cerita berlatar kerajaan atau kesultanan pada zaman yang entah, dihadirkan seni sandiwara (semacam ketoprak).Gambaran ideal putri raja yang cantik, pangeran yang tampan, raja yang sakti, permaisuri yang sabar, patih yang bijaksana, ataupun tokoh antagonis berupa buta (raksasa) yang jahat seakan-akan mengidealkan bagaimana negara harus mampu memakmurkan rakyatnya. Itulah sebabnya, seni sandiwara meraih booming hingga dekade 1990-an. 

    Sebagai masyarakat agraris, wong Cerbon-Dermayu menemukan apresiasi atas rutinitas kesehariannya pada kesenian tarling. Di situ ada realitas sosiokultural: majikan dan buruh pada masyarakat tani, juragan dan bidakpada nelayan, situasi yang mengetengahkan realitas sugih (kaya) dan mlarat(miskin). Akan tetapi tarling mengemas kesedihan dan kegembiraan dengan estetika yang membumi. Dalam acara hajatan tersebut, lapisan bawah dan atas seakan-akan menemukan daya intuisinya dan bersama-sama bisa menertawakan dirinya.

    Selera Massa

    Akan tetapi sebagaimana sebuah hubungan, ternyata tidak selamanya berjalan baik dan mulus. Ada saat-saat indah dan romantis, ada juga saat-saat renggang, jauh, bahkan terjadi perceraian. Hajatan keluarga maupun hajatan desa tetap berjalan, namun di sisi lain beberapa jenis kesenian kurang terpakai lagi.

    Hajatan memiliki sifat dan karakternya sendiri yang berkonotasi sebagai pemberi order. Sebagai pemberi oder, ia memiliki kekuasaan yang tak terbatas, atau dengan kata lain pembeli adalah raja. Ada pertimbangan selera, trend, dan tujuan tertentu untuk menghadirkan sebuah grup kesenian. Tidaklah heran unsur-unsur tersebut senantiasa berubah pada hampir setiap dekade. Sikap pragmatis bahkan ditunjukkan pada hajatan desa. Ngunjung,sedekah bumi atau mapag sri acapkali tidak lagi menghadirkan wayang, tetapi diganti sandiwara.

    Jika pada dekade 1960-an hingga 1970-an wayang golek cepak/menak, tari tayuban, dan tari topeng berjaya, pada dekade selanjutnya tidak demikian. Begitu pula pada dekade 1970-an hingga 1980-an tarling dan sandiwara mencapai masa keemasan, dekade berikutnya mengalami kelesuan. Dekade berikutnya tampak marak tarling dangdut, di susul organ tunggal, trio organ, lalu kembali menampilkan drama tarling dengan iringan ”orkestra” tarling secara lengkap, hal itu juga tak bisa dipungkiri karena perubahan selera, trend, dan tujuan tertentu pemberi order atau massa.

    Kesenian Massa

    Kesenian, dalam hal ini, berada pada posisi yang lemah. Ia memiliki sifat dan karakter hanya sebagai penunggu dan pengharap order, penghibur selera dan trend belaka, pelepas penat dan lelah, dan semata-mata hanya meramaikan dan memeriahkan. Tidaklah heran, meskipun wayang kulit dan sandiwara hingga kini masih tampak eksis, seringkali rata-rata penonton lebih serius untuk nyawer dan minta namanya disebut dalam tembang pesinden. Keseriusan ini berdampak pada inti cerita, yang seringkali tak selesai walaupun pertunjukan telah usai.

    Pada pertunjukan organ tampak lebih serius lagi dalam hal nyawer. Ada situasi psikologi tertentu yang memuat massa luruh dalam kegembiaraan bersama. Dulu, situasi ini terbatas pada kalangan tertentu pada pertunjukan tari tayuban dekade 1950-an hingga 1980-an. Kini, siapapun bisa melakukannya, sekalipun dengan lembaran receh sambil berjoget bersama dan namanya disebut-sebut penyanyi yang acapkali tampil menggoda.

    Bertambahnya jumlah lulusan SLA hingga sarjana, atau naiknya strata sosial dan ekonomi, seakan-akan tak seiring sejalan dengan mutu kesenian massa. Tidak heran pula, bila daya apresiasi pun ikut terimbas. Kesenian tarling, misalnya, mengalami distorsi karena dianggap hanya lagu-lagu dangdut berbahasa Cirebon belaka. Lebih parah lagi pada pertunjukan organ, anak-anak kecil pun terbiasa dicekoki seperti situasi joget dalam ruang diskotik.

    Situasi inilah yang membuat kesenian selalu manut, tetapi gamang. Selera massa menjadi suatu keniscayaan, dan substansi seni menjadi tercerabut. Pada akhirnya, hubungan ini sulit dikatakan sebagai saling bergantung dan saling untung atau simbiosis mutualisme. Hubungan ini lebih tepat sebagai simbiosis parasitisme.

    Kemiskinan, Perempuan & Citra Indramayu


    Babad Dermayu, sebuah naskah sejarah tradisional berupa tembang macapat, salah satunya mengisahkan heroisme tokoh perempuan bernama Endang Dharma Ayu. Nama lain perempuan itu adalah Siti Maemunah atau Gandasari atau Retna Gumilang atau Ratu Saketi, yang disebut sebagai adik Fatahillah. Konon pada abad ke-16, ia dikirim oleh Sunan Gunungjati dari Cirebon sebagai mata-mata yang tugas utamanya adalah mencuri benda keramat, patung ular sarpa kandaga di Kerajaan Rajagaluh. Tugas itu dalam rangka ekspansi penyebaran agama Islam ke wilayah Rajagaluh dan sekitarnya. Secara politis, wilayah tersebut tetap menolak sebagai bagian dari Cirebon. Secara ideologi dan kepercayaan, pengaruh Hindu masih kuat. Sarpa kandaga adalah simbol kekuatan rakyat Galuh. Jika patung yang dikeramatkan itu lepas, dipastikan kekuatan akan menurun pula. Endang Dharma Ayu mencari pasangan yang cocok untuk tugas tersebut. Ia memilih Raden Aria Wiralodra, yang bermukim di pedukuhan Cimanuk (Indramayu). Akan tetapi saat itu Wiralodra, yang berasal dari Bagelen (Jawa Tengah), justru sedang ”pulang kampung” dan ikut serta memadamkan pemberontakan Banyubiru terhadap Demak. Sebagai ”pejabat” yang diutus Demak ke Indramayu, ia merasa punya kewajiban untuk memadamkan pemberontakan itu.
    Akan halnya Endang Dharma, yang kemudian bermukim di pedukuhan Cimanuk, justru dituduh menyebarkan aliran pencaksilat jurus sunan, yang seharusnya tak sembarangan disebarkan. Tuduhan itu berasal dari Pangeran Guru, yang khusus datang dari palembang bersama 24 anak buahnya. Bentrok terjadi. Pangeran Guru dan anggotanya tewas. Konon Pangeran Guru adalah Arya Damar atau Arya Dilah yang merupakan bupati Palembang dari Majapahit, putra Prabu Wikramawardana.

    Huru-hara di Cimanuk itu pada akhirnya menempatkan Endang Dharma sebagai ”musuh” penguasa Cimanuk, Wiralodra. Perang tanding tak terelekkan, namun di balik itu api asmara keduanya juga ternyata menyala-nyala. Akhir dari perang itu ada dua versi. Versi pertama, Endang Dharma Ayu kalah, lalu menceburkan diri ke sungai Cimanuk. Ia mohon agar namanya dijadikan nama pedukuhan. Hingga kini Indramayu konon berasal dari nama Dharma Ayu, Darmayu, in-Dermayu (lidah Belanda), lalu Indramayu. Versi kedua, menempatkan kedus sejoli itu sebagai pengantin yang menikah secara rahasia di Pegaden, agar tak diketahui publik, terutama musuh. Nama Indramayu berasal dari Endang Dharma Ayu.
    Kiprah Endang Dharma dalam misi mencuri benda keramat di Rajagaluh, dikisahkan berakhir sukses. Rajagaluh akhirnya takluk kepada Cirebon. Meski demikian tak disebutkan bagaimana peran Wiralodra dalam misi tersebut.
    Sebagai sebuah babad, yang merupakan sumber sekunder sejarah, akurasi data dan fakta seringkali lebih dibumbui hal-hal yang bersifat legendaris dan mitologis. Bahkan sumber lain, seperti Babad Cirebon, menyebutkan perempuan yang ikut berperan dalam perang dengan Rajagaluh itu bernama Nyi Mas Gandasari atau Nyi Mas Panguragan, tetapi tak disebutkan identik dengan Endang Dharma. Beberapa historiografi lain juga tak menyebutkan sosok adik Fatahillah yang bernama Endang Dharma. Beberapa sumber lain malah menyebutkan Wiralodra adalah utusan SultanAgung dari Mataram (bukan Demak), yang berarti memiliki perbedaan waktu hampir seabad. Mataram melakukan ”transmigrasi lokal” dari Jawa ke pesisir utara Jawa Barat sebagai bagian strategi menggempur Batavia, setelah kekalahan tahun 1628-1629 akibat kekurangan logistik dan komunikasi.

    Kabupaten Termiskin


    Terlepas dari unsur sejarah, legenda, dan mitologi seperti itu, tampaknya keberadaan perempuan Indramayu tak bisa dilepaskan dari kondisi sosial-ekonomi Indramayu yang carut-marut sejak awal dekade 1930. meski memiliki sumberdaya alam (sawah, hutan, laut) yang melimpah, Indramayu dikenal sebagai kabupaten termiskin di Jawa Barat hingga dekade 1970. Ada peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut, yakni ”ayam mati di atas padi”. Bagi kalangan nelayan, setiap kali musim barat (hujan) berarti tak bisa melaut, ada ungkapan ”cul dayung adol sarung” (lepasnya pekerjaan mendayung untuk menangkap ikan di laut, berarti segala macam perabotan di rumah pun harus dijual pula untuk kehidupan sehari-hari, termasuk menjual sarung satu-satunya).
    Secara antropologis, penduduk Indramayu yang terlihat kemudian bukan hanya berasal dari Bagelen. Ada wilayah lain yang juga melakukan migrasi ke Indramayu sebelumnya, seperti saat kejayaan Majapahit terlihat pengaruh Majapahit pada daerah-daerah seeprti Kec. Juntinyuat (sebelah timur Indramayu). Arsitektur rumah gaya Majapahit terlihat di wilayah tersebut. Beberapa nama daerah juga menyiratkan keterpengaruhan dari Jawa Timur dan Madura, seperti Kamal, Lombang, Sampang, Tuban, dan Majakerta (Mojokerto).
    Di seputar kota Indramayu hingga Sindang, selain pengaruh aristrokrat (mungkin dari Mataram), juga perkampungan Arab dan Pecinan. Sedangkan di kecamatan Lelea dan Kandanghaur, pengaruh Kerajaan Sumedang masih terasa pada kulturnya, terutama bahasa. Bahasa Sunda-Lea dan Sunda-Parean (Sunda-Lelea dan Sunda-Kandanghaur). Di perbatasan Kab. Sumedang, dan Subang (sebagian wilayah Kec. Gantar, Haurgeulis, Kroya, Terisi), penduduk menggunakan bahasa Sunda, walau jumlahnya tak banyak.
    Di wilayah barat Indramayu (Kec. Gantar, Haurgeulis, Anjatan, Sukra, Patrol, Bongas) sebagian penduduk berasal dari Tegal-Brebes dan sebagian lagi berasal dari wilayah timur Indramayu dan Cirebon, yang melakukan migrasi pada tahun 1920-an melalui jalur kereta api. Hal itu dilakukan tanah dan hutan di wilayah barat masih perawan. Telah dibangun pula bendungan dan irigasi oleh Belanda.
    Percampuran penduduk dari Bagelen (Demak atau Mataram), Jawa Timur, Tegal-Brebes, Pasundan, Arab, dan Cina itu menghasilkan suatu akulturasi yang kini disebut sebagai kultur Dermayu. Mereka mengaku bukan Jawa, bukan pula Sunda. Mereka menganggap wong Jawa adalah wong wetan, sedangkan urang Sunda adalah wong gunung. Satu hal yang penting dicatat, sebagian besar dari mereka adalah kalangan grass-root (wong cilik), kaum migran/transmigran, pinggiran yang terpaksa melakukan perpindahan dari wilayah asal ke Indramayu. Di antara mereka yang mampu bekerja keras, mendapatkan penghasilan, dan mengeluarkan pendapatan secara ketat (irit), akhirnya menjadi kaya. Sebaliknya tak sedikit pula yang gagal, kemudian terkungkung dalam kemiskinan.
    Pada kurun waktu tersebut terjadi kondisi yang menjurang antara majikan yang memiliki sawah hingga puluhan hektar dengan buruh tani yang makan untuk sehari saja terkadang tak ada. Begitu pula antara juragan (pemilik perahu) dengan bidak (nelayan anggota). Kehidupan ekonomi buruh sangat bergantung pada majikannya, termasuk kebaikannya dalam memperoleh kesempatan kerja. Begitu pula bidak terhadap juragan. Tak sedikit yang menumpang hidup pada majikan (24 jam mengabdi) dengan tujuan memperoleh makan untuk sanak-keluarga. 24 jam pengabdian itu dari mulai pekerjaan di rumah (memasak, mengisi bak mandi, menyapu, mencuci, pekerjaan di sawah, menumbuk padi, dsb.). Upah yang diterima adalah makan untuk sanak keluarga 2X dan diberi kesempatan mengolah sepetak sawah. Seringkali pula, ongkos mengolah sawah, bibit, dan pupuk berasal dari majikan. Ketika musim panen tiba, hasil padi dipotong biaya sewa dan biaya pengolahan tadi. Sosok seperti ini disebut pawongan.
    Kemiskinan dan menjadi buruh secara turun-temurun bisa jadi menyebabkan trauma psikologis dan sosiologis bagi kaum buruh dan bidak. Status kaya pada petani digapai dengan cara-cara yang irit (medit, pelit), sehingga ketika mereka menjadi kaya sifat medit itu tetap berlaku. Misalnya: menanak nasi dengan menggunakan kayu rencekan (mencari kayu) dari ranting pohon bahkan dedak padi, lauk-pauk cukup ikan yang ada di pekarangan atau sawah, termasuk yuyu juga dimakan. Sayur-mayur dari pekarangan. Tak ada sikap hidup konsumtif. Hal yang berbeda ditunjukkan kaum nelayan. Ketika panen ikan, segala macam barang dibeli. Ketika paceklik, segala macam barang dijual.
    Kaya harta pada majikan dan juragan, ternyata menghasilkan sikap miskin pandangan. Apalagi yang miskin harta pada buruh dan bidak. Pandangan yang miskin itu antara lain dalam hal pendidikan anak-anak mereka. Seakan-akan tak ada kewajiban orangtua untuk menyekolahkan anak-anak hingga pendidikan tinggi. Tak sedikit yang hanya SD atau tak lulus SD, bahkan tak sekolah sama sekali. Posisi anak perempuan dinomorduakan dibandingkan laki-laki dalam hal pendidikan. Perempuan cukup bisa memasak, bekerja di sawah dan menata rumah, dianggap sudah cukup. Bahkan oleh orang tuanya, laki-laki pun seringkali dianggap tak perlu sekolah karena akan dibekali sawah sekian hektar.
    Kemiskinan pandangan juga pada hal-hal lainnya, seperti perkawinan. Ada semacam mitos yang salah kaprah di masyarakat, yaitu ”Lebih baik punya janda usia 15 tahun daripada punya anak gadis usia 18 tahun”. Bagi orangtua, jika putri mereka dilamar, meskipun masih usia 12 tahun, pantang untuk ditolak. Urusan kelanggengan rumah tangga adalah nomor dua. Artinya, kalaupun beberapa bulan kemudian terjadi perceraian, bukanlah hal yang dianggap memalukan.
    Dalam hal lembaga pendidikan dan jumlah guru di Indramayu masih sedikit. Pada dekade 1930-an SR (SD) hanya ada di ibukota kecamatan, yang guru-gurunya mayoritas berasal dari Jawa Tengah. Dekade 1950-an SR (SD) mulai ada di beberapa desa, SMP di tingkat kawedanan, dan SLA hanya ada di ibukota kabupaten (1 SMA, 1 SMEA, dan 1 SGB/SGA (SPG). Tahun 1974 bahkan didatangkan ribuan lulusan SPG dari Yogyakarta dan daerah Priangan. Penambahan jumlah sekolah dan guru tampak mulai ada pada dekade 1990-an.

    Eksploitasi Seni

    Trauma sosiologis dan psikologis pada anak-anak kaum buruh dan bidak seakan-akan menemukan ”kran” pembuka, jika mereka mampu melepaskan diri dari ikatan keluarga secara ortodok. Kran itu adalah jika mereka berbakat menjadi seniman. Bagi perempuan, menjadi pesinden (penyanyi), adalah sebuah pemberontakan tersendiri dari keluarga dan lingkungan sejak dekade 1930-an. Saat itu seni yang muncul adalah sandiwara (ketoprak), tarling, wayang kulit, wayang golek cepak, sintren, dombret, genjring, tayuban, dan lainnya. Pandangan masyarakat, perempuan menjadi seniman tari ataupun pesinden (penyanyi) adalah sesuatu yang dianggap “melatar” (jalang, genit, ganjen). Menjadi seniman, dianggap merupakan profesi yang terbuka mengundang laki-laki untuk menggoda.
    Tayuban, sebagai tari pergaulan, menempatkan penari perempuan sebagai penghibur laki-laki dengan goyangannya, kemudian mendapatkan sawer. Di situ juga diramaikan dengan minuman keras, yang konon meniru gaya orang Belanda ketika berpesta. Tak sedikit penari atau pesinden yang diincar laki-laki berduit, kemudian menjadi istri simpanan atau bukan simpanan.
    Seni dongbret, malah secara vulgar melakukan eksploitasi seni. Penari perempuan yang disawer, dalam waktu beberapa menit, bisa diajak si penyawer ke tempat yang agak gelap, kemudian dicium-cium dengan imbalan beberapa rupiah saja. Biasanya pertunjukan dilakukan di daerah pangkalan nelayan sehabis pulang dari melaut.
    Kran keterbukaan makin menganga ketika Jakarta menggeliat sebagai ibukota dan kota metropolitan sejak 1970-an. Jarak yang relatif dekat (Indramayu-Jakarta hanya 4-5 jam dengan bus antarkota atau 3-4 jam dengan kereta api) menjadi pilihan untuk mengadu nasib bagi anak-anak kaum buruh yang trauma akan kemiskinan di kampung. Taak sedikit perempuan Indramayu yang terjerumus ke bisnis esek-esek di Kramat Tunggak dan tempat lainnya. Taak sedikit pula yang secara ekonomi berhasil menghilangkan kemiskinan. Di kampung, mereka membeli sawah, membangun rumah, membeli kendaraan, perhiasan, baju bagus, dsb.
    Daya tarik inilah yang menjadi obsesi bagi para keluarga miskin untuk melakukan upaya ”instan” menghapus kemiskinan yang bertahun-tahun disandang seperti secara genealogis.
    Jika kini Indramayu dikenal sebagai daerah pemasok pelacur, mungkin ada benarnya. Beberapa penyebabnya antara lain himpitan ekonomi, pendidikan rendah, pemahaman agama yang rendah, standar moral yang rendah, sikap hidup konsumtif, patah hati, dendam (tak dikawin pacar padahal sudah tak gadis lagi, dicerai suami), bahkan ada pula yang berlatar sejarah (di sebuah kecamatan ada beberapa perempuan yang berawal menjadi selir di keraton secara tak resmi).
    Sedangkan motivasinya antara lain kemauan diri-sendiri (karena patah hati, ingin punya banyak uang, ingin menunjukkan kemandirian, dsb, diajak teman/saudara yg sudah terjun lebih dulu, didorong suami (karena himpitan ekonomi), dan didorong orangtua (ekonomi), tergiur oleh keberhasilan orang lain yang sukses secara ekonomi (punya rumah bagus, kendaraan, sawah). Modus baru yang terlihat kini adalah dengan alasan berangkat ke kota sebagai pelayan restoran, diskotik, penari di luar negeri, dsb. Seringkali mengatasnamakan seni, yang terjadi adalah eksploitasi esek-esek.
    Tidaklah heran jika ada mem-pleset-kan Kota Indramayu sebagai ”Kota Mangga” menjadi ”mangga mampir, mas!!!”, atau ”Kota Pelem” sebagai ”pelempuan”, atau sebutan ”Kota Ayu” dengan mempanjangkannya menjadi ”ayu mana, ayu mene!”.
    Yang dilakukan pemerintah kabupaten terlihat dengan membuat program yang berhubungan dengan pencegahan maupun pemberantasan penyakit tersebut, seperti razia, pencegahan traficking, penyuluhan, workshop, dsb. Motto pun dijunjung tinggi dengan penempatan relijiositas sebagai bidang nomor satu, yaitu visi ”Remaja” (relijius, maju, mandiri, sejahtera).
    Pencegahan dini dilakukan di sekolah-sekolah dengan penanaman pendidikan agama, seperti kewajiban mengaji 15 menit sebelum pelajaran dimulai, wajib berbusana muslim, bersekolah di Madarsah Diniyah Awaliyah (MDA) bagi anak SD pada sore hari. Akankah efektif? Kita tunggu!

    Filosofi Hidup Suku Dayak Bumi Segandu Indramayu

    Bila suatu ketika kita berkunjung ke daerah Indramayu, tidak jauh dari Pantai Eretan Wetan, di sepanjang lajur sebelah kanan by pass dari arah Jakarta ke Cirebon (jalur Pantura), terdapat sebuah jalan kecil yang bila ditelusuri menuju ke lokasi pemukiman sebuah komunitas yang menamakan dirinya Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu. Orang luar sering juga menyebutnya dengan istilah “Dayak Losarang”, atau "Dayak Indaramayu”. Komunitas ini tepatnya bermukim di Kampung Segandu. Desa Krimun, Kecamatan Losarang. Kabupaten Indramayu.

    “Suku Dayak Indramayu” mulai mencuat ke permukaan sejak pernyataan mareka untuk menjadi “Golongan Putih” (golput= tidak memilih salah satu partai) pada Pemilu tahun 2004.

    “Suku Dayak Indramayu” hidup di tengah-tengah masyarakat sekitarnya, akan tetapi dalam beberapa hal, mereka mengisolasikan diri dari lingkungan masyarakatnya. Misalnya untuk tempat tinggal dan tempat peribadatan (ritual) mereka, dibentengi dengan dinding yang cukup tinggi dan diberi ornament lukisan-lukisan. Di dalam benteng ini terdapat beberpa bangunan yang terdiri atas: rumah pemimpin suku, pendopo, pesarean, pesanggaran, dan sebuah bangunan rumah tinggal salah satu pemimpin suku.

    Benteng yang mengelilingi padepokan



    Beberapa bangunan, yaitu rumah pemimpin suku dan pesarean sudah merupakan bangunanpermanent, berdinding tembok, berlantai keramik, dan beratap genteng. Gedung pendopo berdinding semi permanent, yaitu dinding bagian bawah berupa tembok dan duduk jendela/setengah badan ke atas menggunakan papan yang dilapis bilik, berlantai keramik, dan beratap genteng. Sementara itu, bangunan pesanggaran adalah bangunan non-permanen, berlantai tanah, beratap sirap dan dindingnya dibuat dari papan dan bilik.

    Lingkungan alam di sekitarnya adalah lingkungan pertanian sawah dan palawija. Oleh sebab itu, mereka dalam kesehariannya bermata pencaharian sebagai buruh tani. Data tentang deskripsi kehidupan mereka diperoleh melalui wawancara dengan ketua Suku Dayak Hindu Budha.

    Asal Usul Nama Suku Dayak Bumi Segandu
    Komunitas ini menamakan dirinya dengan sebutan “Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu”. Menurut penjelasan warga komunitas ini, penamaan Suku Dayak ini mengandung makna sebagai berikut: Kata “Suku” artinya kaki, yang mengandung makna bahwa setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki masing-masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing.

    Kata “Dayak” berasal dari kata “ayak” datau “ngayak” yang artinya memilih atau nyaring. Makna kata “Dayak” disini adalah menyaring, memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.

    Kata “Hindu” artinya kandungan atau rahim. Filosofinya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dari kandungan sang Ibu (perempuan).

    Sedangkan kata “Budha”, asal dari kata “wuda”, yang artinya telanjang. Makna filosofinya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang.

    Selanjutnya adalah kata “Bumi Segandu Indramayu”. “Bumi mengandung makna wujud, sedangkan “Segandu” bermakna sekujur badan. Gabungan kedua kata ini, yakni “Bumi Segandu” mengandung makna filosofi sebagai kekuatan hidup.

    Adapun “Indramayu”, mengandung pengertian “In” maknanya adalah “inti”, “Darma” artinya orang tua, dan kata “ayu” maknanya perempuan.

    Makna filosofinya adalah bahwa ibu (perempuan) merupakan sumber hidup, karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan.

    Jadi penyebutan kata “suku” pada komunitas ini bukan dalam konteks terminologysuku bangsa (etnik) dalam pengertian antropologis, melainkan penyebutan istilah yang diambil dari makna kata-kata dalam bahasa daerah (jawa).

    Demikian juga dengan kata “Dayak”, bukan dalam pengertian sukubangsa (etnik) Dayak yang berada di daerah Kalimantan, kendati pun dari sisi performan ada kesamaan, yakni mereka (kaum laki-laki) sama-sama tidak mengenakan baju. Serta mengenakan asesoris berupa kalung dan gelang (tangan dan kaki).

    Lebih jauh, pemimpin komunitas ini menjelaskan tentang pemakaian kata “Hindu-Budha” pada sebutan komunitas ini. Kendatipun kominitas ini menggunakan kata “Hindu-Budha”, bukan berarti bahwa mereka adalah penganut agama Hindu ataupun Budha. Penggunaan kata “Hindu”, karena komunitas ini meneladani peri kehidupan kelima tokoh Pandawa, yang terdiri atas: Yudistira, Bima(Wirekudara), Arjuna(Permadi), Nakula dan Sadewa, serta tokoh Semar, yang dipandang sebagai seorang mahaguru yang sangat bijaksana. Adapun penyebutan kata “Budha” karena mereka mengambil inti ajaran “aji rasa” (tepuk seliro) dan kesahajaan yang merupakan inti ajaran agama Budha.

    Konsep-konsep Ajaran Sejarah Alam Ngaji Rasa
    Ajaran dari kelompok “Dayak Indramayu” dinamakan dengan sebutan “Sejarah Alam Ngaji Rasa”. Menururt penjelasan salah seorang pengikut senior dari Pak Takmad, “Sejarah” adalah perjalanan hidup (awal, tengah, dan akhir) berdasarkan ucapan dan kenyataan. Sementara itu, “alam” adalah ruang lingkup kehidupan atau sebagai wadah kehidupan.

    Adapun “Ngaji rasa” adalah tatacara atau pola hidup manusia yang didasari dengan adanya rasa yang sepuas mungkin harus dikaji melalui kajian antara salah dan benar, dan dikaji berdasarkan ucapan dan kenyataan yang sepuas mungkin harus bisa menyatu dan agar bisa menghasilkan sari atau nilai-nilai rasa manusiawi, tanpa memandang ciri hidup, karena pandangan salah belum tentu salahnya, pandangan benar belum tentu benarnya. “Oleh karena itu, kami sedang belajar ngaji rasa dangan prinsip-prinsip jangan dulu mempelajari orang lain, tapi pelajarilah diri sendiri antara salah dengan benarnya, dengan proses ujian mengabdikan diri kepada anak dan istri”, ungkapnya.

    Konsep-konsep ajaran ini tidak didasarkan pada kitab suci, aliran kepercayaan, agam maupun akar budaya tertentu. Mereka berusaha mencari pemurnian dari dengan mengambil teladan sikap dan perilaku tikoh pewayangan Semar dan Pandawa Lima yang dianggapnya sangat bertanggungjawab terhadap kelaurga.

    Proses menuju pemurnian diri, menurut Takmad, melalui beberapa tahap yang harus dijalin dengan menjauhkan diri dari keramaian dunia yang mengejar kesengan duniawi.
    Tahap-tapah tersebut adalah: wedi-sabar-ngadirasa (ngajirasa)-memahami benar-salah.

    Pada awalnya, setiap manusia wedi-wedian (takut, penakut) baik terhdap alam maupun lingkungan masyarakatnya. Oleh karena itu, manusia harus mengembangkan perasaan sabar dan sumerah diri dalam arti berusaha selaras dengan alam tanpa merusak alam. Prinsipnya adalah jangan merusak alam apabila tidak ingin terkena murka alam. Itulah yang disebut ngaji rasa atau ngadirasa. Setelah bersatu dan selaras dengan alam, dalam arti mengenal sifat-sifat alam sehingga bisa hidup dengan tenteram dan tenang karena mendapat lindungan dari Nur Alam (pencipta alam), manusia akan memahami benar-salam dan selanjutnya dengan mudah akan mecapai permurnian diri; manusia tidak lagi memiliki kehendak duniawi. Cerminan dari manusia yang telah memahami benar-salah, tampak dalam kehidupan sehari-harinya. Manusia yang telah mencapai tahap tersebut, akan selalu jujur dan bertanggungjawab.

    Ngajisara, ajaran yang diakui sebagai jalan menuju pemurnian diri, mendidik setiap pengikutnya untuk mengendalikan diri dari “TIGA TA (harta, tahta dan wanita).

    Bagi para pengikut yang telah menikah, suami harus sepenuhnya mengabdikan diri pada keluarga. Suami tidak boleh menghardik, memarahi, atau berlaku kasar terhadap anak dan istrinya. Oleh karena itu, perceraian merupakan sesuatu yang dianggap pantang terjadi. Demikian juga, hubungan di,luar pernikahan sangat ditentang. “Jangan coba-coba berzinah apabila tidak ingin terkena kutuk sang guru,” demikian salah seorang pengikut Pak Talmad mengungkapkan.

    Ngaji rasa juga mengajarkan untuk saling mengasihi kepada sesama umat manusia. Misalnya, menolong orang yang sedang kesulitan walaupun berbeda kepercayaan, tidak menagih utang kepada orang yang diberi pinjaman. Yang terbaik adalah membiarkan orang yang berutang tersebut untuk membayar atas kesadarannya sendiri. Demikian juga dalam hal mendidik anak, sebaiknya tidak terlalu banyak ngatur karena yang bisa mengubah sikap dan perilaku adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Jalan menuju pemurnian diri juga ditunjukan dengan hidup yang sederhana, menjauhi keinginan mengejar kesenangan duniawi, menghilangkan perasaan dendam, penasaran dan iri kepaada orang laina.

    Konsepsi tentang alam tampak dari keyakjian bahwa dunia berasal dari bumi segandu (bumi yang masih bulat) bernama Indramayu. Bumi segandu, kemudian menimbulkan lahar menjadi daratan, kekayon, dan air. Setelah itu muncul alam gaib, yangmengendlaikan semua itu adalah Nur Alam.

    Ritual
    Ritual yang dijalankan oleh anggota Suku Dayak Hindu-Budha Segandu Indramayu, dilakukan pada setiap malam Jum’at kliwon, bertempat di pendopo Nyi Ratu kembang. Beberapa puluh orang laki-laki bertelanjang dada dan bercelana putih hitam, duduk mengelilingi sebuah kolam kecil di dalam pendopo. Sementara itu,kaum perempuan duduk berselonjor diluar pendopo.

    Ritual diawali dengan melantunkan Kidung Alas Turi dan Pujian Alam secara bersama-sama. Salah satu baik dari Pujian Alam, berbunyi sebagai berikut: ana kita ana sira, wijile kita cukule sira, jumlae hana pira, hana lima, ana ne ning awake sira. Rohbana ya rohbana 2x, robahna batin kita. Ning dunya sabarana, benerana, jujurana, nerimana, uripana, warasana, sukulana, penanan, bagusana [ada (pada) saya ada (pada) kamu, lahirnya aku tumbuhnya kamu, jumlahnya ada berapa, jumlahnya ada lima. Adanya di badan kita, Rohbana ya rohbana 2x, rubahnya bathin kita. Di dunia sabar, benar, jujur, nerima, hidup, sembuh (sadar), tumbuh, dirawat, (supaya) bagus].

    Selesai melantunkan Kidung dan Pujian Alam, pemimpin kelompok, Takmad Diningrat, membeberkan cerita pewayangan tentang kisah Pandawa Lima dan guru spiritual mereka, Semar. Usai paparan wayang, Pak Takmad memberikan petuah-petuah kepada para pengikutnya. Paparan wayang dan petuah ini berlangsung hingga tengah malam. Usai itu, para lelaki menuju ke sungai yang terletak di belakang benteng padepokan. Di sungai dangkal itu mereka berendam dalam posisi telantang, yang muncul hanya bagian mukanya saja. Mereka berendam hingga matahari terbit. Ritual beremdam ini disebut kungkum.

    Siang harinya, di saat sinar matahari sedang terik, mereka berjemur diri, yang berlangsung mulai sekitar jam 9 hingga tengah hari. Ritual ini disebut pepe.

    Medar (menceritakan) cerita pewayangan, kungkum (berendam), pepe (berjemur) dan melantunkan Kidung dan Pujian Alam, adalah kegiatan ritual mereka yang dilakukan setiap anggota ini sehari-hari. Kegiatan secara massal hanya dilakukan pada setiap malam jum’at kliwon.

    Ritual-ritual ini pada dasarnya adalah sebagai upaya menyatukan diri dengan alam, serta cara mereka melatih kesabaran. Semua ini dilakukan tanpa ada paksaan. “Bagi yang mampu silahkan melakukannya, tapi bagi yang tidak mampu, tidak perlu melakukan, atau lakukan semampunya saja,” ungkapnya.

    Mengenal Lebih Dekat Budaya Dermayu


    Mungkin ada yang menganggap kebudayaan adalah kesenian. Mungkin juga ada yang berpendapat kebudayaan Indramayu itu adalah tari topeng, tarling, sandiwara, dan jenis kesenian lainnya. Jadi, budaya Dermayu itu, ya kesenian yang ada di Indramayu. Benarkah demikian? Boleh dikatakan tidak terlalu salah, tetapi juga tidak terlalu benar. Lalu, apa sih budaya Dermayu?
    Mengenai kebudayaan, ternyata ada 150 batasan/definisi. Coba simak definisi kebudayaan, seperti dikatakan Clyde Kluckhohn (1949): (1) Cara hidup masyarakat, (2) Adat sosial tingkah laku individu, (3) Cara berpikir, merasakan, dan mempercayai, (4) Tingkah laku abstark, (4) Tata cara hidup dalam keluarga, (5) Standar orientasi untuk mengatur masalah.

    Kalau menurut Ki Hajar Dewantara, begini: “Budaya berasal dari kata budi, di artikan sebagai jiwa yang telah masak. Kebudayaan itu buah budi manusia. Pada pokoknya terdiri dari tiga kekuatan manusia, yaitu cipta, rasa, dan karsa, atau pikiran, perasaan, dan kemauan.”
    Ada lagi pendapat Sutan Takdir Alisjahbana, bahwa kebudayaan adalah pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan-dorongan hidup yang dasar, insting, perasaan, pikiran, kemauan, dan fantasi yang dinamakan budi.”
    Cukup banyak, cukup abstrak, dan cukup ruwet kan? Nah, supaya tidak ruwet, kita uraikan saja secara umum bagian-bagian kebudayaan seperti ini, yaitu: (1) Adat-istiadat, (2) Alat dan perlengkapan hidup, (3) Mata pencaharian, (4) Kesenian, (5) Bahasa dan sastra, (6) Sejarah manusia, (7) Sistem religi. Agar tampak jelas, kebudayaan Indramayu bisa diuraikan secara terperinci.

    ***

    Sekarang kita kerucutkan pada kebudayaan Indramayu. Coba kita uraikan, ada apa saja budaya Dermayu itu? Kita uraikan satu-persatu, ya?
    Budaya dalam Indramayu itu terdiri dari:

    (1) Adat-istiadat Indramayu:
    a. Upacara adat desa : sedekah bumi, mapag sri, ngunjung, nadran, baritan, ngarot, dsb.
    • Sedekah bumi: Syukuran warga desa setelah masim tanam padi. Biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di balaidesa, dengan lakon Bumi Loka atau asal-usul padi dari Dewi Sri.
    • Mapag Sri: Syukuran warga desa menjelang musim panen padi. Biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di balaidesa, dengan lakon Bumi Loka atau asal-usul padi dari Dewi Sri.
    • Ngunjung: Ziarah kubur ke luluhur desa. Biasanya digelar doa bersama dan pertunjukan wayang golek cepak/menak di areal kuburan desa, dengan lakon babad desa tersebut.
    • Nadran: Syukuran nelayan, biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di areal koperasi nelayan, dengan lakon Budug Basu atau asal-usul ikan.
    • Baritan: Upacara tolak bala/penyakit, biasanya menggelar pertunjukan wayang golek cepak/menak atau doa bersama, bertempat di perempatan desa atau kuburan desa.
    • Ngarot: Syukuran warga beberapa desa di Kecamatan Lelea dan Cidekung menjelang musim tanam padi. Dari balaidesa, Kuwu memberikan alat-alat pertanian kepada kaum muda laki-laki dan bibit tanaman padi kepada kaum muda perempuan. Mereka berkeliling desa, kembali ke balaidesa. Digelar pertunjukan Topeng Lanangyang ditonton kaum perempuan, dan pertunjukan Ronggeng Ketukyang ditonton kaum laki-laki.
    • Mapag Tamba: Pengaruh Ki Kuwu Sangkan sejak abad ke-15/16 demikian kuatnya, sampai-sampai setiap usai musim tanam padi, dilakukan ritual mapag tamba. Tamba (obat) diambil dari Keraton Cirebon kemudian dijadikan obat untuk tanaman padi.
    Karnaval nadran di Cirebon & Indramayu

    b. Upacara adat dalam keluarga : hajatan perkawinan, khitanan, rasulan, adat wanita mengandung sampai melahirkan, adat kematian, dsb.
    • Hajatan perkawinan: Syukuran setelah ijab qabul menikah, digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
    • Hajatan khitanan: Syukuran setelah atau berbarengan pada saat anak laki-laki dikhitan, digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
    • Hajatan rasulan: Syukuran untuk anak perempuan (mungkin karena tak punya anak laki-laki), digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
    • Adat wanita mengandung sampai bayi dilahirkan: Dari mulai ngupati(kandungan 4 bulan), mitung wulan (kandungan 7 bulan), bubur lolos(8 bulan), bancakan lenga (9 bulan), syukuran bayi lahir, coplok wudel (usia bayi antara 3-15 hari), gawe aran (usia bayi 1-2 minggu), cukur rambut bayi (usia bayi 40 hari), udun-udunan (usia anak 7 bulan).
    • Adat kematian: Dari mulai memperingati kematian nelung dina (3 hari), mitung dina (7 hari), matang puluh (40 hari), ngatus (100 hari), ngewu (1000 hari).
    c. Adat gotong-royong, tolong-menolong, dsb.: memperbaiki jalan, lingkungan, solokan, memberantas hama tikus, membuat rumah, membuat tempat ibadah, dsb.

    (2) Mata pencaharian penduduk tradisional Indramayu:
    a. Petani: Bersawah tadah hujan (kini: dengan pengauran teknis), berladang, berkebun.
    b. Nelayan: Menangkap berbagai jenis ikan di laut dengan perahu atau kapal tradisional.
    c. Pedagang: Berdagang hasil pertanian, barang-barang lain, dsb.
    d. Buruh: Bekerja di sawah, ladang, atau pekerjaan serabutan lainnya.



    (3) Alat, produksi, dan perlengkapan hidup:
    a. Kerajinan alat-alat pertanian: cangkul, golok, pedang, sabit, garu, dsb.
    b. Kerajinan alat-alat dan perlengkapan nelayan: perahu, kapal, jaring, dsb.
    c. Kerajinan alat angkutan tradisional: pedati, dokar, gerobak, dsb.
    d. Keterampilan membuat rumah: Rumah berbagai model arsitektur.
    e. Keterampilan membuat busana: Batik dan tenun dalam bentuk baju, celana, kain, dsb.
    f. Keterampilan membuat wadah tertentu: Wadah air, wadah beras, wadah uang, dsb.
    g. Keterampilan membuat alat rumah tangga: Alat dapur, perabotan rumah tangga, dsb.
    h. Keterampilan membuat makanan: Makanan khas (nasi lengko, pedesan entog, empal, sate, grejeg, dsb.),  kue-kue tradisional (koci, sempora, wajik, dodol, jalabia, bugis, tape, cikak, dsb.)

    (4) Kesenian Indramayu:
    a. Seni Rupa: kedok, wayang kulit, wayang golek, lukisan kaca, melukis di perahu, melukis di becak, lukisan layar sandiwara, ornamen rumah, dsb.
    b. Seni Teater: Sandiwara, Tarling, Wayang kulit, wayang golek.
    c. Seni Musik: Musik tarling, gamelan wayang kulit, gamelan wayang golek, gamelan sandiwara, gamelan tari topeng, tari tayuban, kliningan, renteng.
    d. Seni Suara: Lagu dalam macapat, lagu dalam tarling, lagu dalam sandiwara, lagu dalam wayang kulit, lagu dalam wayang golek.
    e. Seni Sastra: Syair macapat.


    (5) Bahasa dan sastra Indramayu:                                                                       
    Secara umum banyak dipengaruhi oleh bahasa Jawa, yakni dari;
    a. Penyebaran agama Islam oleh para Wali maupun ulama dan Ki Gede dari Demak dan Cirebon.
    b. Pengaruh Mataram Sultan Agung secara politik maupun budaya, yang kemudian menciptakan tingkatan (undak-usuk bahasa). Kini di Indramayu hanya dikenal dua tingkatan, yakni bahasa ngoko/bagongan (kasar) dankrama (halus), atau bahasa pedinan dan bebasan.
    c. Pengaruh dari SR (Sekolah Rakyat), SGB (Sekolah Guru Baru), SGA (Sekola Guru Atas) yang guru-gurunya mayoritas dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dan mengajarkan bahasa Jawa Wetan.
    d. Bahasa: 2 tingkatan (Ngoko/Bagongan/Padinan dengan Krama/Bebasan)
    • Ngoko/bagongan/padinan: Digunakan sehari-hari, dianggap lebih komunikatif walaupun kurang halus. Merupakan rumpun bahasa Jawa pesisir (atau menurut Perda Jabar No. 5/2003 adalah bahasa Cirebon).
    • · Krama/Bebasan: Digunakan saat berbicara dengan orang tua, orang yang lebih dewasa atau lebih tua, dianggap lebih halus dan sopan. Merupakan rumpun bahasa Jawa pesisir (atau menurut Perda Jabar No. 5/2003 adalah bahasa Cirebon).
    e. Sastra: Purwakanti, Wangsalan, Parikan, Pribasa, Gugon Tuwon, Jawokan.
    • Purwakanti: Persamaan bunyi akhir di tiap baris (rima).
               Contoh: Sedina
                            sun kelaya
                            Seminggu
                            sun kelayu
                            Sewulan
                            sun kēlingan
                            Setaun
                            Sun keyungyun
    • Wangsalan: Wangsal-wangsul; jawab-pulang; kalimat yang mengungkapkan maksud dengan menggunakan kata-kata yang mirip atau mendekati maksud.
              Contoh: krikil kali, bokat wis waktunē
                           (krikil kali adalah watu, diasosiakan sebagai waktu)
    • Parikan: Pantun dalam bahasa daerah.
              Contoh: Mangan lepet mangan sempora
                           Mangan koci katut kulitē
                           Demen ruket bli kira-kira
                           Dadi siji angēl awitē

    • Pribasa: Peribahasa dalam istilah dan bahasa daerah.
              Contoh: Gedongana koncēnana
              Wong mati mangsa wurunga

    • Gugon Tuwon: Sebuah kalimat yang mengandung nasehat, mengajarkan tentang hidup, dan perilaku yang semestinya dijalani manusia. Berasal dari kata gugu (ditaati, diikuti) dan tuwa (orangtua).
             Contoh gugon tuwon dari Sunan Gunungjati:
             Ingsun titip tajug lan fakir miskin.
             Arti: Aku (Sunan Gunungjati) titipkan tajug/mushola/masjid dan fakir miskin.
             Yen kiyeng tamtu pareng, yen bodoh kudu weruh, yen pinter aja keblinger.
             Arti: Jika tekun pasti berhasil, jika bodoh harus berpengetahuan, jika pandai jangan pandai menurut diri-        sendiri dan seenak sendiri.
             Yen sembahyang kungsiya pucuke panah
             Arti: Jika sholat seperti berada pada ujung panah.
    • Jawokan: Susunan kata-kata dalam suatu kalimat, yang terdiri dari satu kalimat atau lebih yang berfungsi sebagai mantra atau doa.
              Contoh: Niat isun arep maca kemat jaran guyang
                           Dudu ngemat-ngemat tangga
                           Dudu ngemat wong liwat ning dalan
                           Sing tek kemat Nok Suratminah
                           Anakē Bapa Dam kang dunyaē lelantakan
                           Yēn lagi turu gagē nglilira

                   Yēn wis nglilir gagē njagonga
                   Yēn wis njagong gagē ngadega
                           Mlayua mbrengēngē kaya jaran sedalan-dalan
                           Teka welas teka asih
                          Nok Suratminah welas asih ning badan isun”

    (6) Sejarah manusia Indramayu:
    a. Adanya Kerajaan Manukrawa pada abad ke-5 di sekitar hilir sungai Cimanuk (berdasar Naskah Wangsakerta).
    b. Kerajaan Sumedanglarang ketika berdiri pada abad ke-8, batas wilayahnya mencapai daerah-daerah yang sekarang termasuk Kabupaten Indramayu (Lelea, Kandanghaur).
    c. Ulama Syeh Datuk Kahfi/Syeh Idhofi/Syeh Nurjati (adik ipar Sultan Sulaiman dari Baghdad) pada tahun 1420 tiba di Cirebon dan menetap di Pesambangan, Giri Amparan Jati. Pengaruhnya sampai Indramayu. Petilasannya ada di Desa Pabean Ilir Kec. Pasekan.
    d. Makam Pangeran Guru (Pangeran Selawe) di Desa Dermayu Kec. Sindang, bermotifkan ”surya majapahit”, yang mengindikasikan pengaruh Majapahit pada abad ke-15 sudah sampai ke Indramayu.
    e. Kerajaan Cirebon ketika baru berdiri tahun 1479, batas wilayah ke barat sampai daerah Junti. Batas lainnya adalah Losari (timur), Palimanan (selatan), Cigugur Kuningan (tenggara).
    f. Pengelana Portugis, Tom Pires, pada tahun 1513 mencatat adanya pelabuhan Cimanuk, yang merupakan pelabuhan terbesar kedua setelahKalapa (Sundakalapa). Pelabuhan lainnya adalah Bantam (Banten),Pomdam (Pontang), Cheguide (Cigede), Tamgaram (Tangerang).Masyarakat sekitar pelabuhan Cimanuk sudah muslim, tetapi syahbandarnya penyembah berhala dari Kerajaan Sunda/Pajajaran.
    g. Naskah Wangsakerta menyebutkan, Wiralodra adalah prajurit Mataram Sultan Agung yang ikut menyerbu Batavia (1628-1629) yang mengalami kekalahan. Dia ditugasi untuk menetap di Cimanuk untuk membuka pesawahan baru. Kelak menjadi Adipati di Indramayu. Versi lain, menyebut Wiralodra dari Demak.
    h. Pengaruh Sultan Agung yang menguasai daerah-daerah di Jawa Barat selama 57 tahun (1620-1677).

    (7) Sistem religi dan kepercayaan yang berkembang di Indramayu:
    a. Upacara keagamaan.
    b. Kepercayaan adanya Tuhan.
    c. Sistem nilai dan pandangan hidup.

    ***

    Jika sudah mengetahui uraian di atas, bagian-bagian kebudayaan memang luas kan? Dan ternyata budaya Dermayu itu cukup kaya kan? Jadi, kalau mengatakan budaya Dermayu itu hanya kesenian belaka, itu baru sebagian kecil saja. Sebab kebudayaan bukan hanya kesenian, tetapi juga ada adat-istiadat, alat dan perlengkapan hidup dan produksi, mata pencaharian, bahasa dan sastra, sejarah manusia, dan sitem religi. (Sumber. Supali Kasim)

    Pindang Gombyang Kuliner Khas Indramayu




    Kuliner yang satu ini banyak digemari karena rasanya yang khas dan menggugan lidah,.... tidak ada duanya... terbuat dari kepala ikan yang dibikin kuah bumbu pindang dengan rempah rempah tradisional sehingga banyak orang yang ketagihan. kebanyakan para pelancong penjajah makanan yang sering lewat jalur pantura Indramayu, Kepala ikan yang biasanya terbuang, ternyata sangat nikmat untuk dikonsumsi. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kepala ikan Manyung diolah dengan racikan rempah-rempah, menjadi menu kuliner sejenis gule kepala ikan. rasanya siap diadu dengan kuliner di daerah lain. Tidak hanya daging dan tulangnya saja, kepala ikan yang biasanya menjadi bagian yang tidak pernah disentuh, ternyata sangat nikmat untuk disantap dan dijadikan menu kuliner khas. Namun, tidak semua kepala ikan bisa dibuat masakan ini. Hanya ikan-ikan tertentu saja, seperti kepala ikan hiu dan ikan manyung. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dua jenis kepala ikan ini dapat diolah menjadi sajian kuliner dengan sebutan gombyang. Tidak jauh beda dengan asam pade di Palembang atau olahan ikan lain di nusantara. Gombyang diracik dengan menggunakan rempah-rempah seperti kunyit, jahe, lengkuas, kemiri, bawang merah dan bawang putih serta sejumlah bumbu rahasia. Sebagai penghilang bau amis, digunakan belimbing wuluh, sehingga rasanya menjadi asam dan pedas. harga kuliner tradisional ini sangat terjangkau. Untuk satu porsi kepala ikan, lengkap dengan nasi dan lalapannya, hanya dikenakan Rp15 ribu. kuliner khas Indramayu ini banyak diminati masyarakat, terutama pendatang yang berasal dari luar kota. Tidaklah sulit untuk memburu menu kuliner ini di Indramayu. Hampir di sepanjang jalur Pantura kedai dan rumah makan, menyuguhkan menu antik tersebut. Para pemilik warung pindang gombyang mengaku, untuk mendapatkan masakan gombyang yang menggugah selera, pedahang harus memilih kepala ikan yang segar dan baru turun dari atas kapal. Dalam satu hari, penjual bisa menghabiskan hingga 100 porsi pindang gombyang. (Kuliner Khas Indramayu)
     
    Support : Copyright © 2011. KLIK CIREBON - All Rights Reserved
    Proudly powered by Blogger