Headlines News :
    Showing posts with label Cirebon. Show all posts
    Showing posts with label Cirebon. Show all posts

    Filosopi Topeng Cirebon sebagai salah satu budaya Nasional


    Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam. Bagi mereka yang kurang peka dalam pengalaman seni, tarian ini akan membosankan. Tarian kok tidak banyak gerak? Bukankah hakikat tari itu memang gerak (tubuh)? Inilah teka-teki Tarian Panji dalam Topeng Cirebon. Bagaimana penduduk desa mampu menciptakan tarian semacam itu? Penduduk desa yang tersebar di sekitar Cirebon hanyalah pewaris dan bukan penciptanya. Penduduk desa ini adalah juga penerus dari para penari Keraton Cirebon yang dahulu memeliharanya. Ketika Raja-raja Cirebon diberi status "pegawai" oleh Gubernur Jenderal Daendels, dan tidak diperkenankan memerintah secara otonom lagi, maka sumber dana untuk memelihara semua kesenian Keraton tidak dimungkinkan lagi. Para abdi dalem Keraton terpaksa dibatasi sampai yang amat diperlukan sesuai dengan "gaji" yang diterima Raja dari Pemerintah Hindia Belanda.

    Begitulah penari-penari dan penabuh gamelan Keraton harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan. Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai "gaya" Topeng Cirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan lain-lain.

    Untuk merekonstruksi kembali Topeng Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya Topeng Cirebon tadi harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola dan strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita peroleh bentuk yang mendekati "aslinya". Namun metode initak dapat dilakukan tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.

    Dari mana filsafat tari Topeng Cirebon itu dapat dipastikan? Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian yang sekarang ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis terhadapnya.

    Siapakah Empu pencipta tarian ini? Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat Indonesia lama tidak akrab dengan budaya tulis. Meskipun budaya tulis dikenal di Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastranya saja.

    Di Zaman Mana?

    Kalau pencipta tidak dikenal, sekurang-kurangnya di zaman mana Topeng Cirebon ini telah ada? Kepastian tentang ini tidak ada. Namun ada dugaan bahwa di zaman Raja Majapahit, Hayam Wuruk, tarian ini sudah dikenal. Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja ini menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja, ibu mertua raja, ibunda raja).

    Dengan demikian dapat diduga bahwa Topeng Cirebon ini sudah populer di zaman Majapahit antara tahun 1300 sampai 1400 tarikh Masehi. Mencari dasar filosofi tarian ini harus dikembalikan pada sistem kepercayaan Hindu-Budha-Jawa zaman Majapahit. Tetapi mengapa sampai di Keraton Cirebon? Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit (1525), tarian ini rupanya dihidupkan oleh Sultan-sultan Demak yang mungkin mengagumi tarian ini atau memang dibutuhkan dalam kerangka konsep kekuasaan yang tetap spiritual. Dalam babad dikisahkan bahwa Raden Patah menari Klana di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Ini justru membuktikan bahwa Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton.

    Dari Demak tarian ini terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke arah barat sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari penggunaan bahasa Jawa lamanya. Sedangkan Demak sendiri dilanjutkan oleh Pajang yang berada di pedalaman, kemudian digantikan oleh Mataram yang juga di pedalaman.

    Topeng Majapahit ini, dengan demikian, hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat, sedangkan di Jawa pedalaman topeng tidak hidup kecuali bentuk dramatik lakon Panjinya. Kalau topeng tetap hidup dalam fungsi ritualnya, tentunya juga berkembang di kerajaan-kerajaan Islam Jawa pedalaman. Rupanya topeng dipelihara di Jawa Barat karena pesona seninya. Topeng sangat puitik dan kurang mengacu pada mitologi Panji yang hinduistik. Topeng lebih dilihat sebagai simbol yang mengacu pada realitas transenden. Inilah sebabnya sultan-sultan di Jawa Barat yang kuat Islamnya masih memelihara kesenian ini.

    Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.



    Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan. Dalam diriNya adalah ketunggalan mutlak. Sedangkan semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka, keberagaman. Dan keanekan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Pemahaman ini umum di seluruh Indonesia purba, bahkan di Asia Tenggara dan Pasifik. Dan filsuf-filsuf Yunani pra-Sokrates, filsuf-filsuf alam, juga mengenal pemahaman ini. Boleh dikatakan, pandangan bahwa segala sesuatu ini terdiri dari pasangan kembar yang saling bertentangan tetapi merupakan pasangan, adalah universal manusia purba.


    Mengandung Semua Sifat Ciptaan

    Sang Hyang Tunggal Indonesia purba ini mengandung semua sifat ciptaan. Karena semua sifat yang dikenal manusia itu saling bertentangan, maka dalam diri Sang Hyang Tunggal semua pasangan oposisi kembar tadi hadir dalam keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga Sifat itu tidak dikenal manusia alias Kosong mutlak. Paradoksnya justru Kosong itu Kepenuhan sejati karena Dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu Penuh, Penuh itu Kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tiak ada perbedaan, tunggal mutlak. Di Cina purba, Sang Hyang Tunggal ini disebut Tao.

    Topeng Cirebon menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal ini memecahkan diriNya dalam pasangan-pasangan kembar saling bertentangan itu, seperti terang dan gelap, lelaki dan perempuan, daratan dan laut. Dalam tarian ini digambarkan lewat tari Panji, yakni tarian yang pertama. Tarian Panji ini merupakan masterpiece rangkaian lima tarian topeng Cirebon. Tarian Panji justru merupakan klimaks pertunjukan. Itulah peristiwa transformasi Sang Hyang Tunggal menjadi semesta. Dari yang tunggal belah menjadi yang aneka dalam pasangan-pasangan.

    Inilah sebabnya kedok Panji tak dapat kita kenali secara pasti apakah itu perwujudan lelaki atau perempuan. Apakah gerak-geriknya lelaki atau perempuan. Kedoknya sama sekali putih bersih tanpa hiasan, itulah Kosong. Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan gamelannya gemuruh. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari ketidakberbedaan menjadi perbedaan-perbedaan. Itulah puncak topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu.

    Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni "Pamindo-Rumyang", dan "Patih-Klana". Inilah sebabnya kedok "Pamindo-Rumyang" berwarna cerah, sedangkan "Patih-Klana" berwarna gelap (merah tua).

    Gerak tari "Pamindo-Rumyang" halus keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak "dalam" (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak "luar". Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah Panji mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini orang-orang tari tentu lebih fasih menjelaskannya.

    Topeng Panji menyimbolkan peristiwa besar universal, yakni terciptanya alam semesta beserta manusia ini pada awal mulanya. Topeng Panjing atau topeng Cirebon ini mengulangi peristiwa primordial umat manusia, bagaimana "penciptaan" terjadi. Tidak mengherankan kalau di zaman dahulu hanya ditarikan oleh para raja. Raja mewakili kehadiran Sang Hyang Tunggal itu sendiri, karena dalam paham kekuasaan Jawa, Raja adalah Dewa itu sendiri, yang dikenal dengan paham dewa-Raja.

    Topeng Cirebon adalah gambaran sangat puitik tentang hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya. Tari Panji adalah tarian Sang Hyang Tunggal itu sendiri, dan tarian-tarian lainnya yang empat adalah perwujudan dari emanasi diriNya menjadi pasangan-pasangan sifat yang saling bertentangan.

    Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sakral. Tarian ini sama sekali bukan tontonan hiburan. Itulah sebabnya dalam kitab-kitab lama disebutkan, bahwa raja menarikan Panji dalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.

    Tarian juga harus didahului oleh persediaan sajian. Dan sajian itu bukan persembahan makanan untuk Sang Hyang Tunggal. Sajian adalah lambang-lambang dualisme dan pengesaan. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.

    Keraton Kanoman Cirebon


    Tidak jauh dari Kraton Kasepuhan terdapat sebuah Kraton lain bernama Kraton Kanoman yang di bangun pada tahun 1588 oleh Sultan Badaruddin yang memisahkan diri dari Kesultanan utama Cirebon karena berbeda pendapat dengan saudaranya mengenai siapa yang berhak menjadi ahli waris Kesultanan Cirebon.
    Sebagaimana umumnya Kraton di Jawa, Bangunan Kraton Kanoman seluruhnya menghadap ke utara. Di luar bangunan Kraton terdapat sebuah bangunan bergaya bali yang disebut dengan Balai Manguntur yang terbuat dari Batu merah. Di dekat bangunan Balai Maguntur ini terdapat sebuah pohon beringin yang berukuran besar. Fungsi bangunan ini adalah tempat kedudukan Sultan apabila menghadiri Upacara seperti apel prajurit atau menyaksikan pemukulan gamelan Sekaten pada tanggal 8 Maulid dan lain-lain. Ada juga masyarakat yang mengatakan bahwa Balai Maguntur diartikan sebagai Balai mangunn tutur yang artinya tempat sultan berpidato atau berbicara kepada masyarakat tentang hukum dan agama.


    Setelah melewati patung berbentuk naga, pengunjung akan sampai di bangunan Kraton Kanoman, sebuah istana yang lebih kecil ukurannya dari pada Kraton Kasepuhan. Kraton Kanoman mempunyai pendopo dengan sebuah altar di dalamnya, di sini terdapat koleksi piring-piring antik dari Eropa.


                  
               
    Kraton Kanoman juga mempunyai museum dengan pintu-pintunya yang berukir, koleksi terpenting museum ini adalah Kereta Perang Paksi Naga Liman dan Kereta Jempana dengan bentuk mirip seperti kereta pada Kraton Kasepuhan, Kereta yang terdapat di Krataon Kanoman ini di klaim sebagai yang kereta yang lebih tua. Bahkan kerata yang disebut-sebut merupakan duplikat dari kereta yang terdapat di Keraton Kanoman. Koleksi museum lainnya adalah aneka senjata seperti keris dan tombak, gamelan dan lain-lain.

    Museum yang terdapat di Kraton Kanoman ini tidak memiliki jadwal kunjungan yang teratur. Pengunjung yang datang kesini harus melapor dan mengisi buku tamu dan pemandu akan membukakan pintu museum dan menemani pengunjung berjalan mengelilingi museum. Selesai mengunjungi Kraton Kanoman ada baiknya anda melihat-lihat Pasar Kanoman yang terletak persis di depan Kraton.

    Wisata Ziarah Kompleks Makam Sunan Gunung Jati



    Sunan Gunung Jati adalah salah satu diantara sembilan orang penyebar agama Islam terkenal di Pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Bila ditarik garis keturunannya maka silsilah sebelum Sunan Gunung Jati akan sampai kepada Nabi Muhammad SAW melalui cucu Nabi yang bernama Imam Husain. Pada masa kejayaannya Sunan Gunung Jati juga dikenal sebagai Pemimpin rakyat karena beliau pernah menjadi raja di Kasultanan Cirebon, bahkan sebagai sultan pertama Kasultanan Cirebon yang dulunya bernama Keraton Pakungwati. Makam Sunan Gunung Jati adalah makam pertama wali pertama yang pernah kami kunjungi dari sembilan wali penyebar agama Islam. Tentu saja kami sangat antusias. Sebuah wisata religi yang lama ingin kami lakukan.

    Kompleks Makam Sunan Gunung Jati memiliki lahan seluas lima hektare, terletak di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Jaraknya kira-kira 3 km sebelah utara Cirebon. Selain tempat utama untuk peziarah, kompleks ini juga dilengkapi tempat pedagang kaki lima, alun-alun, lapangan parkir, dan fasilitas umum lain.

    Kawasan Makam Sunan Gunung Jati terdiri dari dua kompleks makam. Yang utama ialah Kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung terdiri dari sekitar 500 makam, letaknya di sebelah barat Jln. Raya Cirebon-Karangampel-Indramayu. Yang satu lagi yakni Kompleks Makam Syekh Dathul Kahfi di Gunung Jati, berada di timur jalan raya. Menuju makam Sunan Gunung Jati kami melintasi jalan setapak berkelok, berpapasan dengan banyak pengemis segala usia, melwati rumah penduduk yang cukup rapat dan sebuah Masjid yang merupakan bagian dari kompleks makam.

    Aroma dupa langsung tercium saat langkah kami menapaki pintu gerbang. Sebelum memasuki pintu masuk, pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki. Jika Anda adalah pengunjung biasa seperti kami, isilah buku tamu dan beri sumbangan secara sukarela kepada pengurus makam/juru kunci yang merawat makam.

    Aura mistis begitu kental terasa saat kami masuk lebih dalam ke areal Makam. Terkagum-kagum kami melihat ratusan makam berjejer rapi nan artistik. Kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung memiliki 9 pintu utama (Lawang Sanga). Namun demikian untuk peziarah umum, hanya diizinkan sampai pintu ke-4 di serambi muka Pesambangan. Serambi muka dibatasi Lawang Gedhe, pintu pembatas bagi peziarah umum. Pintu ke-5 sampai 9, lebih ekslusif, hanya diperuntukkan bagi keturunan Sunan Gunung Jati, yakni para sultan dan kerabatnya di Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Pusat dari kompleks yakni Makam Sunan Gunung Jati berada setelah pintu ke-9, terletak di Puncak Gunung Sembung yang tingginya mencapai 20 meter.

    Di sebelah barat serambi muka ada Lawang Mergu, diperuntukkan bagi para peziarah Tiong Hoa yang ingin berdoa untuk Putri Ong Tien Nio. Inilah sebabnya mengapa terdapat begitu banyak keramik dengan kondisi baik dan berornamen unik juga gambaryang menarik seperti burung, orang berpakaian khas Tionghoa dan bunga-bunga. Rupanya keramik-keramik aneka warna yang terintegrasi di dinding itu dibawa oleh Putri Ong Tien Nio dari China.

    A. Makam Sunan Gunung Jati
    Kota Cirebon merupakan salah satu kota diJawa Barat yang cukup terkenal berkat adanya makam Syarif Hidayatullah, seorang mubaligh, pemimpin spiritual, dan sufi yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Peristirahatan terakhir Sunan Gunung Jati dan keluarganya ini disebut dengan nama Wukir Sapta Rengga. Makam ini terdiri dari sembilan tingkat, dan pada tingkat kesembilan inilah Sunan Gunung Jati dimakamkan. Sedangkan tingkat kedelapan ke bawah adalah makam keluarga dan para keturunannya, baik keturunan yang dari Kraton Kanoman maupun keturunan dari Kraton Kasepuhan.
    Di makam ini terdapat pasir malela yang berasal dari Mekkah yang dibawa langsung oleh Pangeran Cakrabuana, putera Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjadjaran. Karena proses pengambilan pasir dari Mekkah itu membutuhkan perjuangan yang cukup berat, maka pengunjung dan juru kunci yang akan keluar dari kompleks makam ini harus membersihkan kakinya terlebih dahulu, agar pasir tidak terbawa keluar kompleks walau hanya sedikit. Larangan tersebut merupakan instruksi langsung dari Pangeran Cakrabuana sendiri.

    Makam yang menempati lahan seluas 4 hektar ini merupakan obyek wisata ziarah yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan/peziarah baik dari Cirebon maupun kota-kota sekitarnya. Kedatangan para peziarah itu biasanya berlangsung pada waktu-waktu tertentu seperti Jumat Kliwon, peringatan maulud Nabi Muhammad SAW, ritual Grebeg Syawal, ritual Grebeg Rayagung, dan ritual pencucian jimat.

    B. Keistimewaan
    Bangunan makam Sunan Gunung Jati memiliki gaya arsitektur yang unik, yaitu kombinasi gaya arsitektur Jawa, Arab, dan Cina. Arsitektur Jawa terdapat pada atap bangunan yang berbentuk limasan. Arsitektur Cina tampak pada desain interior dinding makam yang penuh dengan hiasan keramik dan porselin. Selain menempel pada dinding makam, benda-benda antik tersebut juga terpajang di sepanjang jalan makam. Semua benda itu sudah berusia ratusan tahun, namun kondisinya masih terawat. Benda-benda tersebut dibawa oleh istri Sunan Gunung Jati, Nyi Mas Ratu Rara Sumandeng dari Cina sekitar abad ke-13 M. Sedangkan arsitektur Timur Tengah terletak pada hiasan kaligrafi yang terukir indah pada dinding dan bangunan makam itu.

    Keunikan lainnya tampak pada adanya sembilan pintu makam yang tersusun bertingkat. Masing-masing pintu tersebut mempunyai nama yang berbeda-beda, secara berurutan dapat disebut sebagai berikut: pintu gapura, pintu krapyak, pintu pasujudan, pintu ratnakomala, pintu jinem, pintu rararoga, pintu kaca, pintu bacem, dan pintu kesembilan bernama pintu teratai. Semua pengunjung hanya boleh memasuki sampai pintu ke lima saja. Sebab pintu ke enam sampai ke sembilan hanya diperuntukkan bagi keturunan Sunan Gunung Jati sendiri.

    Kompleks makam ini juga dilengkapi dengan dua buah ruangan yang disebut dengan Balaimangu Majapahit dan Balaimangu Padjadjaran. Balaimangu Majapahit merupakan bangunan yang dibuat oleh Kerajaan Majapahit untuk dihadiahkan kepada Sunan Gunung Jati sewaktu ia menikah dengan Nyi Mas Tepasari, putri dari salah seorang pembesar Majapahit yang bernama Ki Ageng Tepasan. Sedangkan Balaimangu Padjadjaran merupakan bangunan yang dibuat oleh Prabu Siliwangi untuk dihadiahkan kepada Syarif Hidayatullah sewaktu ia dinobatkan sebagai Sultan Kesultanan Pakungwati (kesultanan yang merupakan cikal bakal berdirinya Kesultanan Cirebon).


    Selain terkenal dengan arsitektur bangunannya yang unik, obyek wisata ziarah makam Sunan Gunung Jati ini juga terkenal dengan berbagai macam ritualnya, yaitu ritual Grebeg Syawal, Grebeg Rayagung, dan pencucian jimat. Grebeg Syawal ialah tradisi tahunan yang diselenggarakan setiap hari ke 7 di bulan Syawal, untuk mengenang dan melestarikan tradisi Sultan Cirebon dan keluarganya yang berkunjung ke makam Sunan Gunung Jati setiap bulan itu. Sedangkan Grebeg Rayagung ialah kunjungan masyakat setempat ke makam yang diadakan setiap hari raya Iduladha. Selain itu, terdapat juga ritual tahunan pada hari ke-20 di bulan Ramadhan, tradisi itu disebut “pencucian jimat” dan benda-benda pusaka (gamelan dan seperangkat alat pandai besi) yang merupakan benda peninggalan Sunan Gunung Jati. Tradisi ini dilaksakan setelah shalat shubuh, bertujuan untuk memperingati Nuzulul Qur‘an yang jatuh pada tanggal 17 Ramadhan

    C. Lokasi
    Makam Sunan Gunung Jati terletak di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Propinsi Jawa Barat, Indonesia.

    D. Akses
    Makam Sunan Gunung Jati berjarak kurang lebih 6 km ke arah utara dari Kota Cirebon. Untuk menuju lokasi makam ini pengunjung dapat menggunakan kendaran pribadi (mobil) atau naik angkutan umum (bus) dari Terminal Cirebon. Dari terminal ini, pengunjung naik bus jurusan Cirebon—Indramayu dan turun di lokasi. Perjalanan dari Cirebon menuju lokasi makam ini biasanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit.

    E. Harga Tiket
    Memasuki obyek wisata ziarah makam Sunan Gunung Jati ini tidak dipungut biaya. Namun, para pengunjung dapat menyumbang dana seikhlasnya pada kotak sumbangan yang terletak di setiap pintu masuk kompleks makam itu.

    F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
    Di area makam Sunan Gunung Jati terdapat fasilitas seperti penginapan, warung makan, masjid, pendopo, Paseban Besar (pendopo tempat penerimaan tamu), Paseban Soko (tempat untuk bermusyawarah), parkir luas, dan alun-alun. Di lokasi ini juga terdapat pedagang kaki lima, kios cendramata, kios buah-buahan, dan lain-lain.

    Plangon, Ziarah Mistis Di Daerah Cirebon


    Plangon merupakan obyek wisata yang terletak di sebelah selatan pusat pemerintahan Kabupaten Cirebon, tepatnya di wilayah Sumber kurang lebih 2 km dari Kantor Bupati Cirebon. Sedangkan dari arah Kuningan diperkirakan kurang lebih 10 Km dengan akses jalan yang baik sehingga dapat dimasuki olehbus. Plangon sendiri berada pada ketinggian sekitar 500 m diatas permukaan laut, obyek wisata ini menempati lahan milik Keraton Kasepuhan Cirebon yang pengelolaannya saat ini dilakukan oleh pemerintah Kab. Cirebon. Obyek wisata Plangon saat ini termasuk cagar wisata Budaya Alam yang dilindungi oleh pemerintah Kabupaten Cirebon dan ditetapkan sebagai tujuan wisata yang mempuyai keunikan tersendiri. Keunikan tersebut dikarenakan terdapatnya ribuan pohon rindang serta tanaman perdu yang berusia ratusan bahkan mungkin ribuan tahun yang mungkin belum mempunyai nama dan merupakan tempat tinggal ratusan monyet-monyet yang berkeliaran secara bebas. 

    Menurut kabar yang beredar monyet-monyet tersebut merupakan jelmaan dari orang yang mencari Pesugihan dari Siluman Monyet. Monyet tersebut sendiri sangat jinak dan sangat dekat dengan manusia. Dia tidak mengganggu dan akan mendekati manusia jikalau kita memberikannya makanan seperti kacang, roti ataupun makanan lain kesukaan mereka. Konon khabarnya jikalau ada sanak famili yang telah tergabung dalam komunitas monyet tersebut, kita dapat memanggil namanya dan nama yang kita panggil tersebut akan datang kepada kita. Hal ini biasanya hanya dapat diketahui secara diam-diam tanpa publikasi karena menyangkut nama baik seseorang.

    Monyet tersebut tergabung dalam beberapa kelompok dan diperkirakan berjumlah 230 ekor yang terbagi menjadi 6 kelompok. Dengan masing-masing kelompok di pimpinoleh seekor monyet dengan sebutan mandor, diantaranya mandor Robert, mandor Kampleng, mandor Jefry dan sebagainya. Diantara mandor-mandor itu adalah mandor Robert yang paling banyak dicari dan disukai oleh pengunjung karena mandor Robert lah monyet yang paling besar dan paling jinak. Jabatan mandor ini disebabkan karena usia dan ukuran dari monyet tersebut yang karena lebih tua dan lebih besar sehingga monyet yang lain takut kepadanya. Dan jabatan ini akan terus disandangnya entah sampai kapan lagipula belum ada riset tentang monyet tersebut apakah mereka bertambah secara alamiah, mati secara alamiah atau tetap berjumlah serperti itu hingga akhir zaman. 

    Bagi sebagian orang yang percaya dikatakan bahwa monyet tersebut adalah abadi. Dia tidak akan mati karena terkena kutukan dari Tuhan hingga akhir zaman akibat pesugihan yang telah dilakukannya sehingga ini merupakan azab yang terus ditanggungnya hingga akhir zaman.


    Selain menikmati pemandangan alam dan udara sejuk dengan bercengkrama dengan monyet-monyet yang jinak tersebut, pengunjung juga dapat berziarah ke makam keramat, Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan yang wafat ditahun yang sama yakni 1527 M. bagi pengunjung yang akan berjiarah ke makam keramat, akan dipandu oleh seorang juru kunci. Makam tersebut sangat kramat karena menurut beberapa pengunjung dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan kita. Hal ini biasanya juga terjadi pada beberapa makam kramat lainnya yang dipercaya memberikan manfaat bagi kehidupan mereka. 

    Makam kramat inilah awal mula pesugihan siluman monyet. Entah mengapa kedua makam pangeran tersebut dikaitkan dengan siluman monyet. Apakah karena ilmu yang mereka miliki ataukah karena mereka juga menjelma menjadi monyet yang memiliki ilmu yang luar biasa seperti dalam pewayangan yaitu Hanoman.
    Hal ini memang akan terus menjadi mitos yang tidak akan terpecahkan. Hal ini karena kepercayaan tersebut memang sudah menjadi bagian hidup dari masyarakat kita yang sangat pekat terhadap kehidupan mistik dan selalu saja percaya tanpa ditelaah dan dikaji secara lebih ilmiah.

    Cagar Budaya Gua Sunyaragi

    Cagar Budaya Goa Sunyaragi

    Sunyaragi adalah nama suatu Cagar Budaya Indonesia yang unik. Sunyaragi berlokasi di kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat. Dimana terdapat bangunan mirip candi yang disebut Gua Sunyaragi, atau Taman Air Sunyaragi, atau sering disebut sebgaai Tamansari Sunyaragi. Nama "Sunyaragi" berasal dari kata "sunya" yang artinya adalah sepi dan "ragi" yang berarti raga, keduanya adalah bahasa Sansekerta. Tujuan utama didirikannya gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. 
    Gua Sunyaragi merupakan salah satu benda cagar budaya yang berada di Kota Cirebon dengan luas sekitar 15 hektar. Objek cagar budaya ini berada di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono, Cirebon. Konstruksi dan komposisi bangunan situs ini merupakan sebuah taman air. 

    Karena itu Gua Sunyaragi disebut taman air gua Sunyaragi. Pada zaman dahulu kompleks gua tersebut dikelilingi oleh danau yaitu Danau Jati. Lokasi dimana dulu terdapat Danau Jati saat ini sudah mengering dan dilalui jalan by pass Brigjen Dharsono, sungai Situngkul, lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas, Sunyaragi milik PLN, persawahan dan menjadi pemukiman penduduk. 

    Selain itu di gua tersebut banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias, dan hiasan taman seperti Gajah, patung wanita Perawan Sunti, dan Patung Garuda. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari keraton Pakungwati sekarang bernama keraton Kasepuhan. 
    Lukisan artis tentang gua Sunyaragi 

    Kompleks tamansari Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bagian pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias, ruang ibadah dan dikelilingi oleh taman lengkap dengan kolam. Bangunan gua-gua berbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air. Bagian luar komplek aku bermotif batu karang dan awan. Pintu gerbang luar berbentuk candi bentar dan pintu dalamnya berbentuk paduraksa. 

    Induk seluruh gua bernama Gua Peteng (Gua Gelap) yang digunakan untuk bersemadi. Selain itu ada Gua Pande Kemasan yang khusus digunakan untuk bengkel kerja pembuatan senjata sekaligus tempat penyimpanannya. Perbekalan dan makanan prajurit disimpan di Gua Pawon. Gua Pengawal yang berada di bagian bawah untuk tempat berjaga para pengawal. Saat Sultan menerima bawahan untuk bermufakat, digunakan Bangsal Jinem, akan tetapi kala Sultan beristirahat di Mande Beling. Sedang Gua Padang Ati (Hati Terang), khusus tempat bertapa para Sultan. 


    Denah Gua Sunyaragi 
    Walaupun berubah-ubah fungsinya menurut kehendak penguasa pada zamannya, secara garis besar Tamansari Sunyaragi adalah taman tempat para pembesar keraton dan prajurit keraton bertapa untuk meningkatkan ilmu kanuragan. Bagian-bagiannya terdiri dari 12 antara lain (lihat denah): 

    (1)bangsal jinem, tempat sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit berlatih; (2) goa pengawal, tempat berkumpul par apengawal sultan; (3) kompleks Mande Kemasan (sebagain hancur); (4) goa Pandekemasang, tempat membuat senjata tajam; (5) goa Simanyang, tempat pos penjagaan; (6) goa Langse, tempat bersantai; (7) goa peteng, tempat nyepi untuk kekebalan tubuh; (8) goa Arga Jumud, tempat orang penting keraton; (9) goa Padang Ati, tempat bersemedi; (10) goa Kelanggengan, tempat bersemedi agar langgeng jabatan; (11)goa Lawa, tempat khusus kelelawar; (12) goa pawon, dapur penyimpanan makanan.

    Wisata Religi Cirebon


    Masjid Agung Sang Cipta Rasa
    Masjid Agung Sang Cipta Rasa (dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon) adalah sebuah masjid yang terletak di dalam kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Konon, masjid ini adalah masjid tertua di Cirebon, yaitu dibangun sekitar tahun 1480 M atau semasa dengan Wali Songo menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama masjid ini diambil dari kata "sang" yang bermakna keagungan, "cipta" yang berarti dibangun, dan "rasa" yang berarti digunakan.
    Menurut tradisi, pembangunan masjid inidikabarkan melibatkan sekitar 500 orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.


    Arsitektur
    Masjid Agung Sang Cipta Rasa terletak di sebelah utara Keraton Kasepuhan. Masjid ini terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama. Untuk menuju ruangan utama, terdapat sembilan pintu, yang melambangkan Wali Songo. Masyarakat Cirebon tempo dulu terdiri dari berbagai etnik. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang memadukan gaya Demak, Majapahit, dan Cirebon.
    Kekhasan masjid ini terletak pada atapnya yang tidak memiliki memolo berupa kubah, sebagaimana yang lazim ditemui pada atap masjid-masjid di Pulau Jawa. Konon, dahulunya masjid ini berkubah. Namun, saat azan pitu (tujuh) salat Subuh digelar untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubah tersebut pindah ke Masjid AgungBanten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Karena cerita tersebut, sampai sekarang setiap salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa digelar Azan Pitu. Yakni, azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serba putih.
    Pada bagian mihrab masjid, terdapat ukiran berbentuk bunga teratai yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Selain itu, di bagian mihrab juga terdapat tiga buah ubin bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Konon, ubin tersebut dipasang oleh Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga pada awal berdirinya masjid.
    Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapat sumur zam-zam atau Banyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulan Ramadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.

    Masjid At Taqwa
    Masjid Raya at-Taqwa Kota Cirebon didirikan pada tahun 1918 di suatu kampung yang bernama Kejaksan, yang terdiri dari dua bagian, yang satu untuk dipergunakan sebagai Tajug Agung (Masjid At Taqwa sekarang) dan setengah bagian yang lain dipergunakan sebagai alun-alun (Alun-alun Kejaksan sekarang). Pada tahun ini juga Jalan RA. Kartini merupakan Jalan KeretaApi menuju ke Pelabuhan Cirebon yang kemudian dipindahkan ke Jalan KS Tubun.

    Nama masjid Raya At-Taqwa Cirebon, semula sebenarnya adalah Tajug Agung[rujukan?], bangunannya sudah cukup lama dan tua, ruangannya terlalu kecil dan letaknya kurang menghadap kiblat, kemudian R. M. Arhatha, kepala Koordinator Urusan Agama Cirebon mempunyai gagasan untuk merenovasi Tajug Agung itu di tempat yang lama dengan mengambil nama Masjid At-Taqwa, karena sudah ada masjid agung yang terletak di kasepuhan yang sekarang menjadi Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Seolah-olah pada waktu itu tidak dibenarkan dua nama yang sama pada dua masjid yang letaknya masih dalam satu kota, yaitu Tajug Agung dan Masjid Agung.

    Akhirnya pada tahun 1951 terwujudlah bangunan masjid tersebut dan diresmikan menjadi At Taqwa tahun 1963


    Masjid Merah Panjunan
    Masjid Panjunan atau Masjid Merah Panjunan adalah sebuah masjid tua yang berada di Desa Panjunan, Lemahwungkuk, Cirebon. Masjid ini merupakan sebuah masjid berumur sangat tua yang didirikan pada 1480 oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan, seorang keturunan Arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad, dan kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati. Masjid Merah Panjunan terletak di sebuah sudut jalan di Kampung Panjunan, kampung dimana terdapat banyak pengrajin keramik atau jun.

    Meskipun pendiri Masjid Merah Panjunan adalah seorang keturunan Arab, dan Kampung Panjunan adalah merupakan daerah permukiman warga keturunan Arab, namun pengaruh budaya Arab terlihat sangat sedikit pada arsitektur bangunan Masjid Merah Panjunan ini. Barangkali ini adalah sebuah pendekatan kultural yang digunakan dalam penyebaran Agama Islam pada masa itu.

    Masjid Panjunan semula bernama mushala Al-Athya namun karena pagarnya yang terbuat dari bata merah menjadikan masjid ini lebih terkenal dengan sebutan, Masjid Merah Panjunan. Awalnya masjid ini merupakan Tajug atau Mushola sederhana, karena lingkungan tersebut adalah tempat bertemunya pedagang dari berbagai suku bangsa, Pangeran Panjunan berinisiatif membangun Mushola tersebut menjadi masjid dengan perpaduan budaya dan agama sejak sebelum Islam, yaitu Hindu – Budha. Selain faktor agama tersebut, arsitektur masjid ini dipengaruhi oleh gaya Jawa dan Cina. Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter persegi saja, kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi karena menjadi masjid. Pada tahun 1949, Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati) membangun pagar Kutaosod dari bata merah setebal 40 cm dengan tinggi 1,5 m untuk mengelilingi kawasan masjid.

    Makam Keramat Syekh Magelung
    Cirebon banyak menyimpan nilai sejarah dan budaya, salah satunya adalah Makam Keramat Syekh Magelung. Syekh Magelung Sakti, dikenal juga sebagai Pangeran Soka, adalah putra Raja Syam. Beliau berambut panjang dan bertujuan datang ke Cirebon untuk mencari guru yang dapat memotong rambutnya. Dengan mudahnya, Ki Kuwu Cirebon hanya menggunakan jari-jarinya untuk memotong rambut Pangeran Soka. Kemudian Pangeran mendirikan pesantren/Peguron Agama Islam di sebuah Pendukuhan yang sekarang di kenal dengan Desa Karang Kendal.

    Lokasi:  Kampung Karang, Desa Karang Kendal, Kecamatan Kapetakan
    Makam Nyi Mas Ratu Gandasari
    Makam ini merupakan sebuah komplek di mana terdapat makam Nyi Mas Ratu Gandasari, menempati lahan tertutup seluas 5 x 5 m dengan ukuran makam 170x60x73 cm. Menurut cerita,  Ratu Mas adalah seorang putra Sayyid Mlik Sholeh dari Aceh yang dibawa oleh Ki Kuwu Cirebon ke Jawa. Untuk mengislamkan Raja Galuh, Ratu Mas berupaya dengan beberapa cara, yaitu menyamar (berubah wujud) menjadi perempuan cantik dan oleh Syech Syarif Hidayahtullah dengan sebutan Nyi Mas Ratu Ayu Gandasari.

    Lokasi:  Desa Pangurangan, Kecamatan Arjawinangun
    Makam Gunung Sembung
    Gereja Pasundan
    Kelenteng Talang
    Kelenteng Welas Asih
    Vihara Budidharma
    Patilasan Pangeran Drajat
    Patilasan Sunan Kalijaga
    Kramat Plangon

    Truk bermuatan semen 37 ton menabrak 2 mobil dan 3 motor



    Embedded image permalink

    Sekira pukul 16.30 WIB truk pengangkut semen berlogo Angkutan Pupuk Bersubsidi PT Petrokimia Gresik menabrak dua mobil dan melindas tiga motor. Informasi yang dihimpun awak media ini, perempatan lamer terusan pemuda dalam keadaan berhenti dari arah Kedawung menuju Jateng.
    “Lampu dalam kondisi berwarna merah dan rem truk blong,” ungkap sopir truk, Purwita kepada radarcirebon.com, Jumat (28/3).
    Imbuhnya, saat rem blong truk menabrak minibus Granmax dan menghantam mobil Hyundai yang sudah berhenti. “Lalu, saya membanting stir ke arah kiri dan melindas tiga motor,” ungkap sopir truk berusia 56 tahun.
    Sementara, truk pengangkut semen berlogo Angkutan Pupuk Bersubsidi PT Petrokimia Gresik rencananya dari Palimanan menuju Magelang, mengangkut semen sekitar 37 ton, pukul 18.00 WIB, ditarik mobil derek unit Laka Polres Kota Cirebon. (wb)

    Pedesan Entog Mas Nana

    Pedesan Entog bisa dibilang Kuliner Cirebon yang umurnya paling muda, karena baru beberapa tahun ini namanya bisa menjadi terkenal, sesuai dengan namanya Pedesan Entog terbuat dari daging Entog yaitu sejenis unggas yang di masak dengan berbagai rempah dengan kuah pedas. Daging entog yang terkenal kenyal dan bertekstur seperti daging bebek membuat makanan ini sangat pas jika di sajikan dengan nasi hangat, terlebih lagi dengan kuahnya yang cukup pedas.
    Pedesan Entog Mas Nana
    Apabila rasa dari pedesan entog kurang "nendang" pedasnya, maka saya sarankan untuk memilih menu dengan embel-embel "cabai hijau" dijamin keringat pasti bercucuran ketika menikmati makanan ini. Tapi bagi saya yang notabene cukup senang dengan makanan pedas membuat makan menjadi lebih nikmat dan bersemangat, mata lebih "melek" setelah makan.
    Pedesan Entog Mas Nana
    Lokasi dari Pedesan Entog Mas Nana ini terletak di Jl. Megu - Plered, terletak di sebelah kiri jalan raya apabila kita mengambil arah Plered - Sumber. Tempatnya agak tertutup pepohonan, jadi sebaiknya bagi yang belum pernah ke tempat ini saya sarankan untuk cukup jeli melihat lokasinya. Di tempat ini juga menjual Bubur Ayam dan Empal Gentong, tapi yang paling saya sarankan tentu Pedesan Entognya karena Mas Nana inilah yang menciptakan makanan Pedesan Entog. Selamat Menikmati and Enjoy Cirebon

    Koran Pertama di Cirebon "Tjiremai"

    [imagetag]

    DALAM sejarah pers di Indonesia, surat kabar “Bataviase Nouvelles”, terbit 7Agustus 1744, surat kabar pertama di Indonesia, penerbitnya Gubernur Jenderal Van Imhoff. Izin terbitnya diberikan kepada Adjunct-Secretaris-General Jorden. Izin terbit enam bulan, kemudian diperpanjang menjadi tiga tahun. Pada tanggal 5 Agustus 1810 terbit “De Bataviasche Koloniale Courant”. Itu zaman Daendels-Inggris.
    Penelusuran Radarcirebon.com di Depo Arsip Kota Cirebon, perkembangan pers diJawa Barat, sejak awal menjadi catatan penting dan strategis dalam sejarah media cetak di Indonesia. Di beberapa daerah di Jawa Barat, baik di Bandung, Bogor, Tasikmalaya, Cirebon, Sukabumi, dan Banten, silih berganti kaum nasionalis menerbitkan surat kabar. Pengelolaan media secara profesional dikembangkan. Idealisme kejuangan mewarnai konten dari media. Media massa, khususnya surat kabar pada masa itu oleh kaum nasionalis digunakan dan dimanfaatkan sebagai alat perjuangan dalam menentang penjajahan Belanda. Karena itulah surat kabar sering berumur tidak panjang dan pimpinannya sering pula berurusan dengan polisi rahasia yang senantiasa mengawasi dan memata-matai kaum pergerakan nasional. Sangat terkenal waktu itu Polisi Rahasia Belanda, PID (Politieke Inlichtingen Dienst). Segala laporan PID menjadi dasar bagi Belanda untuk melakukan tindakan pelarangan penerbitan koran dan memenjarakan orang-orang surat kabar.
    Penerbitan surat kabar yang berbahasa Indonesia/Melayu dan surat kabar berbahasa daerah Sunda secara kuantitatif berimbang jumlahnya. Surat kabar berbahasa Sunda tampaknya lebih akrab dengan masyarakat Jawa Barat terutama di daerah Priangan. Asas kedekatan komunitas tampaknya berpengaruh. Ada pula surat kabar yang berbahasa Belanda dan Tionghoa.
    Jauh sebelum “Medan Prijaji” terbit, di Cirebon sudah ada surat kabar “Tjiremai” (1890) dalam bahasa Belanda, tertulis Zaterdag, 28 Februari. Koran berbahasa Belanda ini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.
    Di Cirebon tercatat “Poesaka Cirebon” pimpinan Darma Atmadja, “Warta Tjirebon” dan “Soeloeh Ra’jat” pimpinan Anwar Djarkasih. Tahun 1932 tercatat “Soeara Poeblik” (Bandung) pimpinan Soejitno dan Liem Koen Hian.
    Ada catatan yang tersisa dari perkembangan pers Jawa Barat. Setelah terjadinya pemberontakan “Kaoem Merah” November 1926, sejumlah surat kabar terbit di beberapa kota Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung. Tercatat di Bandung terbit koran “Indonesia Moeda”. Terbit pula “Fikiran Ra’jat” yang sangat terkenal dengan tulisan Bung Karno, Indonesia Menggoegat. Pemikiran dan tulisan Bung Karno yang dimuat di “Fikiran Ra’jat” itulah yang membawanya ke sidang pengadilan dan divonis penjara.
    Pada tahun 1935 di Bandung tercatat penerbitan koran “Nicork – Express”, koran stensilan pertama di Bandung kemudian menjadi harian dengan Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi Bratanata. Jajaran redaksinya Djamal Ali dan Ahmad Zainun Soetan Palindih. Selanjutnya terbit “Berita Priangan” dipimpin Ali Ratman dengan Pemred O.K. Yaman dan Bakri Soera Atmadja. Ada pula “Sepakat” dipimpin A. Hamid. Koran Indonesia dipimpin Moh. Koerdie dan Rochdi. “Berita Oemoem” lahir sebagai kelanjutan dari “Berita Priangan” dipimpin Soenarjo Gondokoesoemo dan Ali Tirto Soewirjo.
    Ramainya penerbitan koran berbahasa Melayu/Indonesia di Jawa Barat, pada waktu bersamaan diikuti oleh penerbitan berbahasa Sunda. Penerbitan media cetak berbahasa Sunda di kala itu tidak dapat dipisahkan dari pergerakan kaum nasionalis di wilayah Jawa Barat.
    Menurut catatan, surat kabar berbahasa Sunda pertama yang diterbitkan di Bandung adalah “Sora-Merdika” pimpinan Moh. Sanoesi. Tahun I No. 3 terbit pada tanggal 1 Mei 1920. Ada pula yang menyatakan, surat kabar pertama berbahasa Sunda itu adalah Soenda Berita, tetapi belum jelas kapan terbitnya. Di masa itu terbit pula “Mingguan Soenda Soemanget” diasuh Tunggono. Mingguan bahasa “Sunda Padjadjaran” dipimpin Haris Soema Amidjaja dan “Siliwangi” diasuh Ema Brata Koesoema. Tercatat pula data terbitnya “Pendawa”, pimpinan Gatot. Terbit pula berkala berbahasa Sunda, “Masa Baroe”, “Sapoedjagad”, “Simpaj” dan “Isteri Merdeka”. Ada pula penerbitan koran “Panglima” di Tasikmalaya.
    Di zaman pendudukan Jepang semua surat kabar yang ada di Bandung dan Jawa Barat ditutup. Semuanya disatukan menjadi satu penerbitan yaitu surat kabar “Tjahaja” di bawah pengawasan Sendenbu. Pimpinan “Tjahaja” pada waktu itu ditunjuk Oto Iskandar Di Nata dan Bratanata.
    Penghentian penerbitan seluruh surat kabar di Bandung dan sekitarnya oleh Jepang, kemudian dilebur menjadi surat kabar “Tjahaja”, merupakan bagian dari usaha Jepang untuk mengawasi penerbitan surat kabar secara ketat.
    Setelah pendudukan Jepang berakhir, di Bandung tercatat ada penerbitan surat kabar “Soeara Merdeka” yang dipimpin oleh Boerhanoeddin. Begitu Belanda masuk membonceng Sekutu, “Soeara Merdeka” mengungsi ke Tasikmalaya. Pada tanggal 24 Maret 1946 terjadi peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) yang membuat masyarakat Bandung mengungsi ke Bandung Selatan, bahkan sempat ke Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Koran “Soeara Merdeka” pun diungsikan ke Tasikmalaya untuk melanjutkan perjuangannya.
    Setelah merdeka, berbagai koran berbahasa Sunda mulai bermunculan di beberapa daerah di Jawa Barat seperti “Sinar Majalengka” (1948) di Majalengka, “Warga” (1954) yang dipimpin oleh Eeng di Bogor, “Kalawarta Kudjang” (1956) di Bandung. Setelah proklamasi kemerdekaan, di masa “Negara Pasoendan” diterbitkan “Harian Persatoean” yang terakhir dikelola Djawatan Penerangan. (wb/Radar Cirebon)

    Kuliner Docang Lawang Gada cita rasa khas Kota Cirebon

    Mungkin bagi yang ingin menikmati Kuliner Cirebon Docang tapi sulit untuk bangun lebih bagi, ini adalah salah satu alternatifnya. Di beberapa artikel saya mengenai Docang sebelumnya, rata-rata penjual Docang buka di pagi hari biasanya setelah subuh hingga pukul 9 pagi. Saya sendiri kurang tahu mengapa rata-rata penjual Docang di Cirebon buka sekitar pukul itu, mungkin kalau kita lihat dari jenis kulinernya. Docang memang cocok untuk dijadikan sarapan karena porsi dan kuahnya yang tidak terlalu banyak.
    Docang Lawang Gada
    Tapi bagi para penikmat Kuliner Cirebon khususnya Docang, yang agak sulit bangun pagi atau sedang "kepengen" makan Docang malam-malam bisa berkunjung ke warung ini, letak di Jl. Lawang Gada Kesambi. Terletak di sebelah kiri jalan arah Kesambi - Lawang Gada, Buka dari pukul 6 sore hingga pukul 10 malam lebih. Warungnya cukup sederhana, hanya berupa warung non permanen. Tapi jangan takut karena rasanya boleh di pujikan.
    Docang Lawang Gada
    Harganya sangat terjangkau dan cocok untuk mengganjal perut. Selamat Menikmati and Enjoy Cirebon
     
    Support : Copyright © 2011. KLIK CIREBON - All Rights Reserved
    Proudly powered by Blogger